Saturday, August 30, 2025

Jatidiri Oleh Goly Amin Priyono



Tepat pukul 04.30 WIB Galih bersiap untuk aktivitas seperti biasanya, dia bersiap berangkat ke tempat kerja menjalani rutinitas seperti biasanya. kehidupan Galih yang berantakan tidak membuat lemah dalam kehidupan. Galih mengalami cobaan hidup yang luar biasa dari kesehatan yang tidak baik, pekerjaan yang sangat melelahkan, belum lagi di tambah masalah keluarga yang pelik.

Namun ujian hidup itu tidak memupuskan semangatnya dalam menjalani kehidupan. Permasalahan yang bertubi-tubi dapat terselesaikan satu persatu dengan baik ini karena dorongan keluarga, teman membuat Galih seperti terlahir kembali. Dia seperti diberi kesempatan kedua kalinya untuk menjalani kehidupan secara lebih baik.

Hari-hari dilaluinya dengan kesabaran mencoba untuk menemukan hal baru yang mungkin selama ini belum dia dapatkan. Dia mencoba untuk lebih dekat dengan sang pencipta kehidupan.

Rutinitas malam dijalani dengan Istiqomah.

"Ah malam ini aku mencoba untuk shalat malam, mudah mudahan aku bisa bangun pukul 03.00 WIB pagi."ungkap Galih dalam hatinya sambil mengucapkan doa karena malam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Waktunya Galih untuk beristirahat dan siap siap menyetel alarm di Hpnya.

"Kring.......Kring....." Suara HP Galih berdering  sangat keras membuatnya kaget.

Bangunlah Galih dengan mata masih terkantuk-kantuk, Galih pun keluar kamar dengan mengambil air wudhu dan bersiap untuk melaksanakan shalat malam dengan sangat khusu.

Dalam hati Galih berdoa agar semua yang di lalui bisa selesai dan menemukan ketenangan hatinya. Karena selama ini kecemasan dan kekhawatiran selalu menghantui,tapi dia percaya ada Allah yang mendampinginya.

Rutinitas Galih pun di lakukan dengan istiqomah, lambat laun ketenangan hati Galih mulai muncul dan yang membuat Galih tambah semangat menjalani itu semua. Setiap bangun pagi rasanya badan jauh lebih ringan badannya lebih enak tidak seperti biasanya.

Galih pun menjalani aktivitas di pagi hari, dia terkadang mewajibkan untuk sekedar jalan walaupun hanya 30 menit untuk menjaga kebugaran.

Kehidupan Galih sudah mulai tertata dengan baik, perasaan marah, kecewa Galih kepada orang orang yang selama ini menyepelekan mulai pudar dan hilang.  Dia tidak merasa kecewa dan khawatir dengan kehidupan yang dijalaninya. 

Kehidupan di jalani dengan bahagia. Dia hanya memikirkan kehidupan saat ini. Walaupun pada dasarnya manusia punya rencana tapi hasil Allah  yang menentukan. Prinsip itulah yang di terapkan dalam kehidupan Galih, sehingga hidupnya jauh lebih tenang.

Galih mencoba mengambil sisi positif dari setiap kejadian dan membuang jauh-jauh rasa marahnya terhadap orang yang selama ini menyepelekan dan menganggap Galih orang yang lemah yang tidak bisa apa apa bahkan setiap iya teringat akan hal itu, iya hanya tersenyum.

Perjalanan mencari jatidiri berlanjut, dia tidak hanya bekal  ilmu agama saja tapi bagaimana dia bersikap kepada orang lain, memperbaiki shalat dan berusaha mengerti garis besar setiap bacaan shalat, dia juga membeli buku buku tentang prinsip prinsip kehidupan karena selama ini dia anggap gagal dalam kehidupan.

Pagi yang syahdu, rintik rintik hujan di tambah secangkir kopi menambah kehangatan suasana kala itu. Hari itu adalah hari libur di manfaatkan Galih sekedar untuk melepas penat setelah lima hari kerja.

 Sambil meminum kopi Galih membuka Hp. Galih melihat adiknya sedang membaca buku. Tanpa basa-basi Galih langsung menanyakan buku apa yang adiknya baca.

"Lagi baca buku apaan de" tanya Galih dengan sangat penasaran.

"Cerpen mas, ini bagus mas isinya sesuai dengan kehidupan, bagus juga buat bacaan, siapa tau saya bisa ngambil sisi positif dari cerita ini"timpal adiknya itu menjawab pertanyaan Galih

"Mas mau?besok aku kirim mas, kayanya pas buat mas" tanya adiknya kepada Galih.

"Hitung hitung ini hadiah dari aku mas" sahut adiknya kepada Galih.

Adik Galih sebut saja Robert. Robert merupakan adik yang baik, dia tau betul kehidupan Galih. 

Kehidupan Robert dijalani dengan keluarga kecilnya. Walaupun rumahnya jauh  dari rumah Galih, komunikasi keduanya terus berlangsung. Dia sangat peduli dengan kondisi kakaknya.

Sesampainya buku di tangan Galih ternyata Galih terkejut ternyata kejadian yang di alaminya ada di buku itu. Galih baca tiap lembar hingga dia bisa mengambil pelajaran bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini itu mengikuti takdir Allah

Bahwa segala kejadian apapun kalau memberi makna negatif kita akan marah dan putus asa namun jika kita memberi makna positif akan lebih sabar tekun dan tidak menyerah. Saat emosi datang bagaimana kita  bersikap mengendalikan emosi kita dan berfikir secara rasional.

Setelah membaca buku itu Galih mencoba menerapkan dalam kehidupan. Hidup Galih semakin berwarna. 

Galih melanjutkan aktivitasnya dan bermaksud ke tempat saudara yang jauh di kota. Di tengah perjalanan Galih pun beristirahat untuk sekedar melepas lelah.

Lalu-lalang kendaraan bermotor menambah suasana di tempat itu menjadi lebih panas, memang saat itu matahari  sedang menampakan cahayanya.

Mata Galih tertuju pada seorang paruh baya, kulitnya yang keriput dan kelopak matanya yang dalam dan tubuhnya yang tidak lagi kuat menahan terik matahari, membuat Galih merasa iba, dia adalah tukang parkir yang bekerja di komplek itu. Galih pun menghampirinya dan membelikan sebotol minuman.

"Minum dulu pak, ini ada sebotol air untuk mengurangi dahaga."timpal Galih menghampiri bapak-bapak paruh baya itu.

"Makasih mas, mau kemana?"tanya bapak itu sambil meminum air yg diberikan Galih.

"Mau ketempat saudara pak" jawab Galih dengan penuh senyum.

"Panas sekali ya mas suasana hari ini."timpal bapak tadi kepada Galih.

" Ya pak, bapak tiap hari kerja kaya gini dapat berapa?"

"Mau dapat berapapun yang penting di syukuri mas"timpal bapak tadi menjawab pertanyaan Galih.

"Sekarang namanya orang hidup, yang penting istri dan anak sehat, bisa makan dan kuliah."

"Banyak kan mas orang kaya tapi di uji dengan kesehatan yang tidak baik, tidak bisa menyekolahkan anak karena anaknya terkena narkoba tapi ada banyak pengemis yang hidupnya tenang, tanpa sakit dan bisa menyekolahkan  bahkan sampai perguruan tinggi."jawab bapak tadi dengan senyum."

"Yang penting tah kita menjalani sesuai dengan rencana Nya." Timpal bapak itu dengan penuh keyakinan

Obrolan singkat tadi mengakhiri pembicaraan Galih dengan bapak tadi.

"Dah dulu ya pak saya akan melanjutkan perjalanan."sahut Galih  mengakhiri obrolan tadi. 

"Ya makasih mas minumannya" ucapan bapak itu kepada Galih.

"Sama-sama pak"jawab Galih diiringi senyum.

Galih melanjutkan perjalanan sambil berfikir dalam renungan karena merasa terkesan dengan jawaban bapak tadi.

Penghasilan pas-pasan bahkan kurang, tapi masih mau memikirkan anaknya untuk mengenyam pendidikan lebih bagus.

Sesampainya di tempat saudara, Galih bercerita kepada saudara tentang apa yang di alaminya.

Hari demi hari dilalui, tapi entah kenapa setiap ketemu orang lain selalu dalam obrolannya pasti tersirat hal yang sama tentang pentingnya bersyukur dan menikmati hidup.

"Apa ini orang-orang pilihan Allah ya, mengapa mereka mengatakan hal yang sama kepadaku."ungkap Galih dalam benaknya sambil meminum secangkir kopi hitam kesukaan nya.

"Mungkin ini cara Allah membimbingku."pungkas Galih dengan penuh semangat.

Galih selalu bertemu dengan orang orang yang kalau dilihat secara ekonomi tidak mampu tapi rasa bersyukur orang tersebut sangat luar biasa. Orang orang tersebut menerima segala hal dengan lapang dada, hidup selaras dengan alam. Hal ini yang membuat orang tersebut hidup tenang dan menjadikan anak-anaknya menjadi orang sukses.











No comments:

Post a Comment

FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...