Friday, September 26, 2025

LANGKAH BARU, MENGGAPAI MIMPI Goly Amin Priyono, S. Pd

 Suasana sore itu tampak cerah seperti biasanya Raka duduk di teras depan rumahnya menatap langit yang sore itu begitu indah. Dalam hatinya dia termenung apakah dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang yang sukses dan menempuh pendidikan yang tinggi. Di bidang akademik Raka tergolong biasa saja dan bukan termasuk orang yang pintar di kelasnya, namun keinginannya dan tekad begitu kuat. 

Sekolah yang dia tempuh sekarang mengharuskan Raka tinggal sendiri di kota dan jauh dari orangtuanya. Suatu hari orang tua Raka menelponnya, hal itulah kesempatan Raka untuk bercerita tentang keinginannya melanjutkan pendidikan ke universitas yang dia inginkan. Kedua orang tua Raka bukan orang berpendidikan, mereka bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak tetap. Raka sangat menyadari bahwa keinginannya pasti membuat orangtuanya resah namun tekadnya sangat kuat, Dia berpendapat kalau dia memiliki pendidikan yang tinggi dia dapat  mewujudkan cita-citanya sekaligus bisa mengangkat ekonomi keluarganya. Mereka bercerita melalui telepon.

“Assalamualaikum nak, gimana kabarmu? kamu sehat?” tanya ayahnya dengan penuh rasa sayang.“

Alhamdulilah yah, Raka sehat”. Gimana kabar ayah sehat juga kan.” jawab raka sembari menanyakan kabar ayahnya.

“Alhamdulillah nak.” jawab ayahnya menjawab pertanyaan Raka.

“Gimana dengan sekolahmu” tanya ayahnya menanyakan perkembangan sekolahnya.

Akhirnya Raka menceritakan perkembangan sekolahnya.

“Alhamdulillah sekolah Raka lancar.” oh ya yah bulan depan Raka mau ujian doakan ya yah biar Raka nilainya bagus, karena ini penentuan kelulusan Raka setelah menempuh pendidikan di SMA.” Jawab Raka dengan penuh semangat.

“Ya nak pasti ayah doakan yang terbaik buat kamu.” Jawab ayahnya kepada Raka.

Pembicaraan mereka berlanjut dengan sangat hangat, karena memang sudah lama Ayahnya tidak meneleponya. Raka kembali mengutarakan niatnya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Gini yah, Raka pengin bercerita, besok Raka sudah selesai sekolah, keinginan Raka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.” ungkap Raka kepada ayahnya.

“Tapi?.....” 

“Tapi kenapa nak?” Tanya ayahnya dengan rasa penasaran.

“Ayah pasti keberatan kan!” ungkap Raka kepada ayahnya.

“Ayah ngga keberatan nak.” fokus aja dengan apa yang kamu hadapi sekarang, mengenai kuliah pasti ada jalan dan mengenai biaya pasti ayah akan usahakan dan jangan lupa selalu berdoa” Jawab ayah Raka dengan penuh bijak.

“Pesan ayah hanya satu, shalat tepat waktu nak karena sebagai pondasi dasar kamu untuk meraih apa yang kamu inginkan. Kamu tau pohon yang menjulang tinggi dan besar pasti memiliki akar yang kuat agar tidak roboh, begitupun dengan manusia, Ketika kamu memiliki keinginan yang kuat, kamu harus punya pondasi yang kuat agar tidak tumbang dan gagal.” Jawab ayah Raka menasehati Raka.

“Baik yah, Raka akan Fokus ujian dan shalat tepat waktu.” Jawab Raka dengan penuh semangat.

Suara adzan bergema mereka pun akhirnya mengakhiri perbincangan hangat mereka.

“Dah dulu ya nak, sudah adzan Ayah mau maghrib.” Kamu juga shalat lho!” Sahut ayah Raka mengakhiri pembicaraannya lewat telepon.

“Baik yah, Siap laksanakan.” Jawab Raka dengan penuh semangat.

Hari-hari Raka dilaluinya dengan penuh semangat, Raka harus fokus dulu dengan ujian yang iya akan hadapi. Raka selalu berusaha mengingat kata-kata Ayahnya, Dia tekun belajar dan berdoa agar selalu di beri kemudahan.

Hari ujian tiba, semua anak di sekolah itu mengikuti ujian dengan baik begitu juga dengan Raka. Tiga Hari dia mengikuti ujian, selepas menempuh ujian Dia Bersama temannya melepas penat dan pergi jalan-jalan. Di Tengah perjalanan dia bertemu kakak kelasnya yang sudah sedang menempuh di perguruan tinggi. Kakak kelasnya bercerita bahwa ada program beasiswa bagi mereka yang mau masuk ke perguruan tinggi mereka, asalkan nilainya masuk dan sesuai dengan kriteria yang di inginkan pihak kampus. Raka akhirnya tambah semangat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang sama dengan kakak kelasnya itu sambil berharap dan berdoa semoga nilai yang peroleh baik dan bisa sebagai syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Hari pengumuman tiba, Raka dengan hati bergetar menunggu pengumuman di bacakan dan nama Raka terpampang di urutan paling atas karena nilai tertinggi dan menjadi yang terbaik di sekolah itu dan kesempatan untuk beasiswa ke perguruan tinggi terbuka lebar. 

Rasa haru menyelimuti hati Raka dan tanpa basa basi Raka langsung menelpon ayahnya, memberitahu nilainya paling tinggi dan mengucapkan terimakasih atas nasihat yang telah di berikan kepadanya. Raka tersenyum lebar bahwa untuk mencapai yang dia inginkan dia harus berusaha dan doa yang kuat, menjaga shalat lima waktu sebagai dasar dan pondasi yang kuat Raka berjanji pada dirinya untuk menjaga itu semua. Raka punya prinsip bahwa setiap proses pasti tidak akan mengkhianati hasil.

Monday, September 22, 2025

Kilaunya Emas

 Sore yang cerah Galih bermaksud membeli sebuah buku yang letaknya jauh dari rumahnya, dengan mengayuh sepeda Galih bergegas ke toko buku yang letaknya agak jauh dari rumahnya.

Sampailah Galih di sebuah toko buku yang nama toko bukunya bernama toko metro, iya masuk ke toko tersebut.

Galih menyusuri rak buku yang ada di toko itu, satu persatu rak di kunjungi hingga dia berhenti pada satu rak yang sangatlah menarik, satu persatu buku di rak tersebut di pilih hingga dia menemukan buku yang menurut Galih sangat menarik  yaitu buku sercercah cahaya.

Tanpa basa-basi Galih mengambil buku itu dan membukanya. Buku itu sangat menarik dan tertarik untuk membelinya. Galih akhirnya membeli buku tersebut.

Setelah sampai di rumah Galih membacanya, lembar demi lembar dia baca hingga menemukan kata kata yang menggelitik hatinya nikmati prosesnya. Buku itu menceritakan kisah kehidupan seorang anak muda yang gagal dalam kehidupannya hingga dia menemukan titik temu dan merubah keadaan.

Galih merenung banyak sekali peristiwa yang dia alami hingga Galih teringat dengan kata-kata orang tuanya jalani saja hidupmu biar Allah yang mengatur jalannya.

Hari sudah semakin sore suara khas ayahnya membuyarkan lamunannya.

"Nak ayo cepat mandi kita bersiap menuju masjid."ungkap ayahnya membuyarkan lamunannya. Akhirnya Galih bergegas ke mengambil air wudhu karena memang hari sudah cukup sore dan sudah masuk waktu shalat magrib.

Keesokan harinya Galih seperti biasanya berangkat ke sekolah, sesampainya di sekolah Galih dan teman-temannya di kumpulkan di depan sekolah karena hari itu ada siswa baru bernama Nabil.

Nabil merupakan siswa pindahan dari sekolah sebelah, dan perkenalan berlanjut. Nabil dan Galih akhirnya berkenalan. 

Galih memang orang yang sangat familiar dia selalu dekat dengan teman-temannya. Setelah perkenalan di depan sekolah Galih dan temannya masuk kelas, dia nampak berbincang dengan temannya sambil masuk ke dalam kelas namun matanya tampak sesekali memperhatikan Nabil.

Hari demi hari Galih dia jalani, nampak dia sangat memperhatikan Nabil, karena memang selain Nabil memiliki paras yang cantik dan juga cerdas,Galih melihat Nabil beda dengan siswa pada umumnya. Dia terlihat pendiam dan cenderung tertutup. Hal inilah yang membuat Galih sangat tertantang untuk mengenalnya lebih jauh. 

Dua bulan Galih mengenal kepribadian Nabil, Nabil yang pendiam dan cenderung tertutup ternyata memiliki kepribadian yang baik. Terkadang Galih sering melihat Nabil membantu temannya dalam segala hal terlebih tugas sekolah.

Galih semakin penasaran dengan Nabil. Selain pendiam dan cenderung tertutup ternyata nabil memiliki kepribadian dan kepedulian yang baik.

Lonceng bel sekolah berbunyi,Galih  bergegas pulang dengan mengayuh sepedanya sesekali dalam hatinya berucap.

"Oh ternyata dia baik juga ya." renung Galih sambil mengayuh sepedanya menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah Galih bercerita tentang teman barunya itu kepada ayahnya dan ayahnya memberikan wejangannya.

"Nak kamu tahu sebatang emas yang kalau dilempar ke sungai kilaunya akan terlihat ngga" tanya ayah Galih dengan bijak.

"Terlihat yah"jawab Galih dengan sedikit penasaran.

"Kenapa ayah mengibaratkan sebatang emas."lanjut Galih menanyakannya.

"Gini nak yang namanya emas akan tetep terlihat kilaunya, walaupun emas itu sudah bercampur dengan batuan yang lain, dan akan tetep memiliki nilai jual yang tinggi."jawab ayahnya dengan penuh senyum.

"Begitupun dengan manusia, manusia kalau memiliki kepribadian yang baik dan tulus di manapun berada,dia akan membantu manusia yang lain, maka kamu harus memiliki kepribadian yang baik biar itu sebagai bekal kamu dalam menjalani kehidupan sekaligus jadi ladang ibadah." lanjut ayahnya menasehati Galih.

Wejangan ayahnya membuat Galih terdiam, dalam hatinya dia berucap.

"Nabil pada dasarnya memiliki kepribadian yang baik cuma karena banyak masalah yang  dihadapinya membuat iya jadi pendiam." renung Galih sambil mencerna apa ya ayahnya katakan."

Sejak saat itulah Galih  belajar banyak hal bahwa kegagalan yang iya alami dalam menjalani kehidupan bukan sesuatu yang menghalanginya untuk melanjutkan kehidupan dan mencapai apa yang dia inginkan dan wejangan ayahnya membuatnya belajar bahwa mengenal manusia jangan hanya dari luarnya saja tapi juga kepribadiannya.




Friday, September 19, 2025

Sahabat Pantang Menyerah Oleh GOLY AMIN PRIYONO



Raka berdiri di sekolah barunya. Jantungnya berdebar kencang. Ia melihat anak-anak lain tertawa dan bermain bersama. Raka merasa sangat kecil dan pemalu. Ia ingin sekali punya teman, tapi mulutnya terasa terkunci.

"Aku tidak boleh menyerah," bisiknya pada diri sendiri. "Aku harus berani. Aku akan mencoba." Raka menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk. Di kelas, ia duduk di bangku paling belakang, berharap tidak ada yang memperhatikannya.

Guru mengumumkan tugas kelompok. "Kalian akan membuat maket taman kota," kata Bu Guru. "Satu kelompok terdiri dari empat orang." Raka menelan ludah. Ia melihat anak-anak lain sudah mulai membentuk kelompok. Ia merasa semakin cemas.

Tiga anak, Nisa, Danu, dan Sinta, masih mencari anggota. Nisa melihat Raka yang duduk sendirian. "Hai, mau gabung dengan kami?" tanya Nisa dengan senyum ramah. Raka terkejut. Ia ragu, tapi teringat janjinya.

Raka mengangguk pelan. "Iya, mau," jawabnya dengan suara pelan. Nisa, Danu, dan Sinta menyambutnya dengan gembira. Mereka mulai berdiskusi tentang maket. Nisa mengusulkan membuat air mancur, Danu ingin membuat ayunan, dan Sinta ingin membuat kolam ikan.

Raka hanya mendengarkan. Ia ingin berkontribusi, tapi takut idenya tidak bagus. "Bagaimana dengan Raka?" tanya Danu. "Kamu punya ide?" Raka terdiam sejenak. Ia melihat bahan-bahan di meja: kardus, kertas warna, dan lem.

"Bagaimana kalau kita membuat jembatan kecil di atas kolam ikan?" kata Raka dengan suara yang lebih mantap. "Kita bisa pakai stik es krim." Nisa, Danu, dan Sinta tersenyum. "Ide bagus!" kata Sinta.

Raka mulai mengambil peran. Ia dengan teliti memotong stik es krim dan menyusunnya menjadi jembatan. Danu membantunya menempelkan stik-stik itu. Nisa dan Sinta sibuk membuat pohon-pohon kecil dari kertas. Mereka bekerja sama dengan gembira.

Maket taman kota mereka selesai. Ada air mancur, ayunan, kolam ikan, dan jembatan stik es krim yang indah. Bu Guru memuji karya mereka. Tapi yang paling penting bagi Raka, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia punya teman.

Sejak hari itu, Raka, Nisa, Danu, dan Sinta menjadi sahabat. Raka belajar bahwa keberanian kecil bisa membuka pintu persahabatan yang besar. Ia tidak pernah menyerah, dan ia menemukan tempatnya.







Tuesday, September 16, 2025

MENGGAPAI CAHAYA Oleh Goly Amin Priyono, S. Pd


Suasana sore itu tampak cerah seperti biasanya Raka duduk di teras depan rumahnya menatap langit yang sore itu begitu indah. Dalam hatinya dia termenung apakah dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis besar. Di bidang akademik aka tergolong biasa saja dan bukan termasuk orang yang pintar di kelasnya, namun keinginannya dan tekad begitu kuat.


Suatu hari guru mereka memberi tugas menulis tentang cita-cita. Raka ragu, tangannya gemetar saat memegang pena. Raka menulis keinginannya. Guru itu tersenyum melihat tulisan Raka yang kekuatan menyentuh hati. Guru itu berkata jangan berkecil hati teruslah berusaha hingga kamu menemukan cahaya dalam dirimu meski begitu, perjalanan Raka tidak mudah. beberapa temannya menertawakan mimpinya, bilang itu mustahil. Namun Raka mengingat kata gurunya jangan pernah padamkan cahaya dalam dirimu. Setiap malam, Raka mulai menulis cerita pendek di bukunya. Ia menulis tentang petualangan, persahabatan, dan harapan walau sering lelah, menulis membuat hatinya tenang.


Raka pengin sekali mewujudkan semua mimpi-mimpinya menjadi penulis besar. Hari demi hari iya jalani dengan menulis. Kehidupan Raka semakin hari semakin menyala seperti obor di tengah kegelapan, kebiasaan Raka menulis terus berlanjut.


Sepulang sekolah iya mengobrol dengan temannya sebut aja Aska. Aska merupakan teman sekelas Raka yang sangat peduli, Raka bercerita tentang ulah teman-temannya yang menertawakannya bahkan kadang membuatnya minder namun aska sahabat yang baik dia selalu mendengarkan keluhan Raka, selain tinggal di desa yang sama, mereka juga pada saat kecil sering bermain bareng sehingga tahu persis watak dan karater temannya itu. Walaupun teman-teman Raka di sekolah sering mentertawakan tentang cita-cita Raka menjadi seorang penulis besar, tapi Aska sangat menghargai cita-cita Raka.


Suatu hari sekolah mereka mengadakan lomba menulis, lomba menulis ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun sekolah mereka. Pamflet mengenai lomba tersebar di seluruh kelas di sekolah itu. Namun Raka terlihat tidak antusias dan terhadap lomba itu dan terlihat murung, melihat hal itu aska menghampirinya.

“Raka ayo kamu ikut lomba menulis kayanya pas deh buat kamu, kamu kan biasa menulis.” sahut aska yang menghampirinya.

"Ayolah ini momen bagus untuk kembangkan tulisanmu.” ungkap Aska dengan meminum sebotol minuman es yang dibelinya di kantin sekolah. Dengan senyum lebarnya Raka kemudian membalas pertanyaaan temannya itu.

“Ah buat apa?” jawab Raka dengan sedikit muram.

“Mereka pasti akan mentertawakanku” sahut Raka dengan  mengambil botol minuman yang di bawakan oleh Aska.

“Jangan gitu, malah ini justru ini sebagai pemacu semangat buat kamu untuk membuktikan kepada mereka bahwa apa yang mereka tertawakan salah.” tegas Aska dengan penuh semangat.

“Kamu mau kan membuktikan kepada mereka.” Lanjut Aska menegaskan dan meyakinkannya.

“Tapi pasti mereka menertawakanku karena mereka menganggap ambisiku terlalu tinggi” jawab Raka dengan sedikit kesal.

“Lalu sampai kapan kamu mau membuktikan kepada mereka.” tegas Aska dengan tatapan tajamnya.

“Entahlah.” jawab Raka seraya meninggalkan  temannya itu.

            Rintik hujan yang mulai membasahi sekolah mereka menambah suasana sore semakin syahdu. Raka duduk termenung di sudut sekolah, iya memikirkan ucapan temanya tadi. Dalam hatinya ini iya berucap sebenarnya kesempatan baik untuk membuktikan kepada teman-teman yang menertawakannya namun iya sadar kemampuan menulisnya baru sebatas menyalurkan hobi dan menyalurkan bakat saja.

Hari demi hari Raka selalu kepikiran perkataan Aska akan lomba itu. Hari perlombaan semakin dekat namun Raka belum mengambil keputusannya untuk mengikutinya. Iya masih ragu untuk mengambil Keputusan. Kurang dari dua hari penutupan pendaftaran lomba menulis, Raka pun akhirnya memantapkan hatinya untuk mengikuti lomba tersebut. Raka akhirnya mencoba untuk menulis lagi kata-kata yang muncul dalam pikirannya iya tuangkan dalam sebuah tulisan dan akhirnya sebuah cerpen tersaji. Raka pun akhirnya mengikuti lomba tersebut. Prinsip Raka pada dasarnya sangat sederhana iya hanya ingin membuktikan kepada temannya bahwa apa yang dicita-citakan bukan hal yang mustahil dan suatu hari nanti akan terwujud.

            Saat lomba menulis diumumkan di sekolah, Ia tahu banyak yang lebih pandai, tetapi ia ingin mencoba. Dengan jantung berdebar menunggu hari pengumuman tiba, aula sekolah penuh dengan sorak sorai. Ketika namanya disebut sebagai pemenang, Raka tak percaya. Ia berdiri dengan tangan gemetar, sorot mata bahagia menyala.


Sejak hari itu, Raka mulai berani bermimpi lebih besar. Ia tahu jalannya panjang, penuh tantangan dan ragu. Tapi ia belajar bahwa satu langkah kecil bisa membuka jalan besar. Kini, setiap kali menatap langit sore, Raka tersenyum. Ia tahu, mimpinya bukan hanya angan kosong. Karena keberanian untuk memulai  sudah miliki
































































































Saturday, September 13, 2025

Jejak Rasa di Kota Senja Oleh Goly Amin Priyono

 Di tengah hiruk pikuk kota, seorang perempuan bernama Asha berjalan pulang selepas kerja. Hujan gerimis membasahi trotoar, lampu jalan berpendar kuning keemasan. Ia merasa lelah, tapi ada secercah hangat di dalam dirinya yang ia tak mengerti asalnya.

Di sebuah kafe kecil di sudut jalan, Asha melihat seorang pria asing duduk sendiri. Ia mengenakan kemeja sederhana, menatap keluar jendela seakan menunggu sesuatu. Tatapan mereka bertemu sejenak, meninggalkan rasa asing namun akrab.


Hari-hari berikutnya, Asha sering melewati kafe itu. Tanpa sadar, ia mencari sosok pria tersebut setiap kali melintas. Kadang ia menemukannya, kadang hanya kursi kosong menunggu.

Suatu sore, mereka akhirnya saling menyapa. Percakapan sederhana: nama, pekerjaan, hal-hal remeh. Namun di antara kalimat itu, ada keheningan yang terasa penuh arti.



Mereka mulai sering bertemu, duduk di meja yang sama setiap sore. Obrolan tentang buku, musik, dan mimpi menjadi rutinitas baru. Asha merasa hidupnya perlahan berubah warna.

Hari berganti minggu, rasa nyaman tumbuh tanpa mereka sadari. Tak ada janji besar, hanya kebersamaan yang sederhana. Namun justru itulah yang membuatnya terasa nyata.

Suatu malam, listrik padam di kafe. Hanya lilin yang menerangi meja mereka. Keheningan itu membuat jantung Asha berdegup lebih kencang.

Pria itu bernama Damar, seorang fotografer lepas. Ia menceritakan perjalanannya menangkap momen kecil yang sering diabaikan orang. Asha merasa seakan melihat hidupnya sendiri dari sudut baru.

Suatu ketika, Damar mengajak Asha berjalan di taman kota. Mereka berbicara tentang masa depan, meski dengan nada bercanda. Langkah kaki beriringan membuat waktu terasa lebih pelan.

Di antara canda, ada tatapan serius yang tak terucapkan. Asha mulai bertanya dalam hati: apakah ini cinta? Tapi ia takut memberi nama pada sesuatu yang masih rapuh.

Waktu terus berjalan, namun satu sore Damar tak datang. Hari berikutnya, kursi itu tetap kosong. Ada ruang hampa yang membuat Asha resah.



Beberapa hari kemudian, Asha menerima pesan. Damar harus pergi keluar kota untuk pekerjaan. Ia tidak tahu kapan bisa kembali.Kehilangan mendadak itu membuat Asha menyadari sesuatu. Ia merindukan obrolan ringan, tawa kecil, dan kehadiran Damar. Rasa itu akhirnya punya nama: cinta.

Hari-hari berlalu lambat tanpa Damar. Asha menuliskan perasaannya di buku catatan kecil. Ia menunggu, meski tak tahu sampai kapan.

Hingga suatu sore, pintu kafe itu kembali terbuka. Damar berdiri di sana, senyum lelah namun hangat. Asha merasa seluruh kota berpendar indah.

Mereka duduk di kursi biasa, seakan waktu tak pernah jeda. Namun ada sesuatu yang berbeda: keheningan kini terasa lebih dalam. Mereka tahu, perasaan itu nyata.

Damar menggenggam tangan Asha perlahan. Tak ada kata puitis, hanya sentuhan sederhana. Namun itulah pengakuan yang paling jujur.

Sejak saat itu, mereka tak lagi ragu. Hari-hari di kota senja menjadi lebih berarti. Romansa tumbuh dari keseharian yang sederhana.

Asha sadar, cinta bukan tentang janji besar. Melainkan tentang hadir di saat yang paling biasa. Dan Damar mengajarinya arti itu.

Di kota senja, dua hati akhirnya bertemu. Tak sempurna, tapi nyata. Dan itu cukup untuk disebut cinta.














Friday, September 12, 2025

Jejak Cahaya Oleh Goly Amin Priyono

Malam itu Aksa sepi di jendela kamarnya, memandang lampu kota yang berkelip seakan berbicara kepadanya. ‘Kenapa aku merasa tersesat di usia ini?’ gumamnya, merasa kosong meski dunia seolah penuh warna.


Teleponnya berbunyi—sebuah pesan dari sahabat lamanya, Nara. ‘Besok ketemu di taman biasa?’ Aksa menarik napas panjang. Sudah lama ia tak berbicara jujur tentang perasaannya.

Di taman keesokan sore, Nara tersenyum hangat. ‘Kau terlihat lelah, Aksa.’ ‘Aku hanya... bingung,’ jawab Aksa pelan, matanya menunduk.


Aku merasa berjalan tanpa arah. Semua orang terlihat tahu tujuan mereka, kecuali aku,’ bisik Aksa. Nara tersenyum samar. ‘Itu bukan kelemahan, Aksa. Itu tanda bahwa kau sedang mencari.’


Hening sesaat, hanya suara angin dan gesekan daun yang menemani mereka. ‘Kalau kau tak tahu tujuanmu, nikmati prosesnya. Hidup bukan sekadar garis lurus,’ kata Nara.

Aksa mengangkat kepala. ‘Tapi bagaimana jika aku gagal?’, tanyanya ragu. ‘Gagal bukan akhir. Itu bagian dari perjalananmu,’ jawab Nara tegas.


Mata Aksa mulai berkilau. ‘Aku takut mengecewakan orang-orang di sekitarku.’ ‘Kau hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi mereka, tapi untuk menemukan arti bagi dirimu sendiri,’ ucap Nara lembut.

Percakapan itu terus mengalir. Semakin lama, Aksa merasa beban di dadanya sedikit demi sedikit terangkat. Ia mulai menyadari bahwa kehilangan arah bukanlah akhir, merupakan awal pencarian baru.

Hari mulai gelap. Aksa menatap langit yang berubah dari oranye ke ungu pekat. ‘Mungkin... aku tak harus punya semua jawaban sekarang,’ katanya pelan.

Nara mengangguk. ‘Ya. Kau hanya perlu berani melangkah, meski satu langkah kecil.’ Aksa tersenyum samar untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Di perjalanan pulang, Aksa berbicara pada dirinya sendiri. ‘Aku mungkin belum tahu tujuan, tapi aku tahu aku bisa memulai.’ Ia merasa ringan, seakan langit malam memberikan harapan baru.

Beberapa hari kemudian, Aksa mulai menulis kembali. Kata-kata sederhana tentang keresahan dan harapannya. ‘Mungkin inilah caraku mencari—menulis,’ batinnya.

Ia sadar, perjalanan bukan tentang siapa yang tercepat, tapi siapa yang berani terus berjalan. Dan malam itu, Aksa menutup bukunya dengan senyum tulus.

Langit malam bertabur bintang. Aksa menatapnya dengan keyakinan baru. ‘Aku akan menemukan jalanku... perlahan tapi pasti.’









Wednesday, September 10, 2025

Jam Pasir Ajaib Oleh Goly Amin Priyono

 Lintang seorang anak yang sangat suka membaca buku sejarah, sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di masa lalu. Suatu sore, saat menjelajahi loteng rumah neneknya yang berdebu, ia menemukan sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di balik tumpukan kain.

Di dalam kotak, tergeletak jam pasir yang aneh. Bukan pasir biasa yang mengalir di dalamnya, melainkan butiran-butiran cahaya keemasan yang berkilauan. Di dasarnya, terukir simbol-simbol kuno yang belum pernah Lintang lihat sebelumnya.


Tanpa berpikir panjang, Lintang membalik jam pasir itu. Seketika, butiran cahaya keemasan mulai mengalir dengan cepat. Ruangan di sekelilingnya berputar, warna-warna menyatu menjadi pusaran, dan suara gemuruh memenuhi telinganya.

Ketika semuanya tenang kembali, Lintang menemukan dirinya berdiri di tengah hutan lebat. Udara terasa lebih segar, dan suara-suara hewan terdengar asing. Ia melihat dinosaurus raksasa sedang mengunyah dedaunan di kejauhan! Ia telah kembali ke zaman prasejarah!

Lintang begitu takjub. Ia menghabiskan beberapa saat mengamati makhluk-makhluk purba itu, menjaga jarak aman. Ia tahu ia tidak boleh mengganggu mereka, atau ia mungkin mengubah sejarah.

Setelah beberapa saat, Lintang membalik jam pasir itu lagi, ingin melihat era lain. Kali ini, ia mendarat di sebuah kota futuristik dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan kendaraan terbang melintas di udara.

Ia bertemu dengan seorang penemu muda bernama Orion, yang sedang mengerjakan robot pelayan. Orion menjelaskan bagaimana teknologi telah mengubah kehidupan, tetapi juga tantangan baru yang muncul.

Lintang merasa senang dengan petualangannya, tetapi ia juga mulai merindukan rumah. Ia sadar bahwa setiap era memiliki keindahan dan tantangannya sendiri, dan bahwa masa kini juga tak kalah berharganya.

Dengan hati-hati, Lintang membalik jam pasir untuk terakhir kalinya. Butiran cahaya keemasan mengalir, dan ia merasakan tarikan yang kuat kembali ke masanya sendiri.

Ia membuka mata dan menemukan dirinya kembali di loteng neneknya, jam pasir ajaib tergeletak di sampingnya. Lintang tersenyum, hatinya penuh dengan cerita-cerita luar biasa. Ia tahu, petualangan terbesarnya adalah menghargai setiap momen di waktu sekarang.





Langkah Baru, Mimpi Besar Oleh Goly Amin Priyono

Raka menatap langit sore dari jendela kamarnya. Sejak kecil ia sering bertanya-tanya apakah mimpi bisa menjadi kenyataan. Hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba.

Di sekolah, Raka sering merasa biasa saja dibanding teman-temannya. Nilainya tidak selalu paling tinggi, dan ia bukan yang paling populer. Namun ada api kecil dalam dirinya yang belum pernah padam.

Suatu hari, Bu Lestari, guru mereka, memberi tugas menulis tentang cita-cita. Raka ragu, tangannya gemetar saat memegang pena. Tetapi ia mulai menulis tentang impiannya menjadi penulis besar.

Tulisan itu ternyata membuat Bu Lestari tersenyum bangga. Bu Lestari bilang, kata-kata Raka punya kekuatan menyentuh hati. Untuk pertama kalinya, Raka percaya ia memiliki sesuatu yang unik.

 Meski begitu, perjalanan Raka tidak mudah. Beberapa temannya menertawakan mimpinya, bilang itu mustahil. Namun Raka mengingat kata gurunya: jangan padamkan cahaya dalam diri.

Setiap malam, Raka mulai menulis cerita pendek di bukunya. Ia menulis tentang keberanian, persahabatan, dan harapan. Walau sering lelah, menulis membuat hatinya tenang.

 Saat lomba menulis diumumkan di sekolah, Raka memberanikan diri ikut. Ia tahu banyak yang lebih pandai, tetapi ia ingin mencoba. Dengan jantung berdebar, ia mengumpulkan tulisannya.

Hari pengumuman tiba, aula sekolah penuh dengan sorak sorai. Ketika namanya disebut sebagai pemenang, Raka tak percaya. Ia berdiri dengan tangan gemetar, sorot mata bahagia menyala.

Sejak hari itu, Raka mulai berani bermimpi lebih besar. Ia tahu jalannya panjang, penuh tantangan dan ragu. Tapi ia belajar bahwa satu langkah kecil bisa membuka jalan besar.

Kini, setiap kali menatap langit sore, Raka tersenyum. Ia tahu, mimpinya bukan hanya angan kosong. Karena keberanian untuk memulai sudah ia miliki.


Monday, September 8, 2025

Lorong Waktu Oleh Goly Amin Priyono

Perjalanan Galih ke arah barat yaitu ke kota Bandung dalam pengembaraan mencari jatidiri memberikan banyak pelajaran yang sangat berarti dalam hidupnya.

Pagi itu bertepatan dengan libur nasional memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W, waktu itu menunjukkan pukul 04.00 WIB, Galih beserta temannya menuju masjid yang penuh dengan nuansa yang khas dan bangunan arsitektur yg sangat bagus di kota Bandung.

 Mereka bergegas untuk menuju masjid Aljabar yang konon menurut orang-orang yang sudah mengunjunginya terasa begitu nikmat dan seperti di Mekah. Akhirnya Galih dan temannya menuju masjid itu dan jauh dari tempat penginapan yang mereka tempati. 

 Jalanan yang cukup ramai karena banyak orang yang berangkat pagi untuk melakukan aktivitas  menikmati libur panjang membuat lalu lintas di kota itu mengalami kemacetan.

Di tengah perjalanan Galih sambil berbincang kepada temannya.

"Gimana mas jalanan macet seperti ini, masihkah kita bisa shalat subuh berjamaah di masjid Al Jabbar."tanya Galih kepada temannya itu.

"Tenang aja nanti kita pasti tepat waktu."jawab teman Galih dengan tenangnya."

Sambil bergumam dalam hatinya.

"Mana mungkin jalan macet seperti ini ko bisa tepat waktu."gumam Galih dalam hatinya. 

Sambil berdzikir menyebut asma Allah dan shalawat kepada nabi Galih tetap melanjutkan perjalanannya.

Berdering telepon temannya membuat Galih terkejut membuyarkan dzikirnya sebut saja Ali.

Di tengah-tengah obrolan dengan Ali melalui sambungan telepon, Galih teringat bahwa temannya itu tinggal di Bandung sudah cukup lama.

Ali memang tinggal di bandung, karena tuntutan kerja yang menuntut dia menetap di kota itu, kesempatan ini membuat Galih bertanya kepada Ali.

"Ali arah yang cepat menuju ke masjid Aljabar itu lewat mana ya?"tanya Galih lewat telepon. Ali akhirnya memberikan informasi jalan di lalui. 

Buah dari kesabaran dan keteguhan mereka akhirnya sampai di masjid itu dengan tepat waktu dan shalat berjamaah bersama dan bonusnya Galih bisa shalat di saf paling depan.

Sepulang dari masjid Galih dan temannya menuju tempat penginapan ya iya tinggali beserta teman yang lainnya.

Sesampainya di tempat penginapan Galih berbincang-bincang dan menanyakan tujuan yang mereka akan kunjungi dan akhirnya rombongan ingin mengunjungi tempat perbelanjaan di kota itu yang menurut orang-orang tempat itu sangat khas Bandung dan sekedar untuk memberikan oleh-oleh buat keluarga tercinta di rumah.

Sampailah Galih dan rombongan di tempat itu.

Galih melihat toko yang menjajakan barang khas kota itu. Akhirnya Galih dan temannya berhenti di toko itu, toko itu tampak ramai pengunjung.

Galih turun dari mobil yang iya tumpangi, tapi Galih melihat keanehan yang terjadi di toko itu.

"Banyak banget ya pengunjung"renung Galih dengan sedikit keheranan karena tidak pernah melihat toko seramai itu di tempat lain.

Galih melihat barang barang yang dijajakannya dan tertarik membeli sebuah barang di toko itu.

"Ini berapa pak"tanya Galih kepada pemilik toko itu.

"Ini gratis mas."jawab pemilik toko itu dengan sedikit senyum

"Ko gratis pak, nanti bapak rugi lho diberikan secara gratis dagangannya."jawab Galih kepada pemilik toko.

"Jangan merasa rugi mas dengan apa yang sudah diberikan Allah. Saya bisa bangun toko ini atas doa ibu dan ijin Allah mas, makanya saya ingin membahagiakan ibu saya dengan berbagi hanya sekedar membahagiakan orang-orang yang selama ini tidak bisa membeli karena keterbatasan biaya."jawab pemilik toko dengan seksama memberikan penjelasan kepada Galih.

Jawaban tadi menggetarkan hati Galih.

"Masya Allah masih ada ya di zaman sekarang orang yang mulia itu"ungkap Galih dalam benaknya sambil memilih barang dagangan yang ada di toko itu.

" Ya udah pak ini sedikit uang hanya sekedar mengganti barang dagangan yang bapak berikan ke orang-orang tadi."ungkap Galih kepada pemilik toko itu.

"Ngga usah mas, silahkan kalian milih aja, ini sudah jadi kebiasaan saya setiap hari jumat untuk berbagi."jawab pemilik toko tersebut.

Kebiasaan bapak tadi sudah dilakukannya sejak lama sejak lama dia teringat nasihat ibunya untuk berbagi kepada sesama dan bapak itu berasumsi bahwa dengan berbagi ibunya akan senang dan kebahagiaan ibunya sama saja kebahagiaan Allah.

"Ya udah ya pak." Makasih atas pelajaran yang bapak berikan dan saya hanya berdoa mudah mudahan usaha bapak lancar dan bapak tadi mengamininya.

Galih akhirnya pamit meninggalkan toko itu dengan membawa pelajaran yang sangat berarti bahwa kita tidak boleh mengandalkan urusan dunia saja tapi juga urusan Akhirat dan kesabaran di dalam menghadapi masalah menjadi hal yang penting untuk menjadikan pribadi yang tenang dan mensyukuri semua kejadian baik itu baik atau buruk dan nikmat yang diberikan.

Perjalanan ke masjid dengan di iringi kemacetan yang luar biasa tidak menyurutkan niat Galih untuk tetap beribadah di masjid itu. Dengan diiringi dzikir sepanjang perjalanan akhirnya Allah memberikan petunjuk melalui Ali agar Galih sampai dengan cepat ke masjid itu dan bisa shalat berjamaah di saf paling depan.

Pemilik toko juga mengajarkan arti pentingnya sedekah. Sedekah dengan iklas tidak hanya memberikan keberkahan bagi dirinya dan kebahagiaan bagi ibunya saja tapi juga orang banyak karena pemilik toko tidak mengejar urusan dunia saja tapi juga akhirat, dan juga kepedulian kepada sesama  memberikan pelajaran bahwa kita hidup di dunia itu tidak sendiri pasti membutuhkan bantuan orang lain.

KEJARLAH AKHIRAT MU MAKA DUNIA AKAN MENGIKUTINYA.


Friday, September 5, 2025

Toko Kehidupan Oleh Goly Amin Priyono

 

Suasana mendung waktu itu tepat pukul 13.00 WIB, Galih beserta temannya berhenti di sebuah warung makan yang namanya tergolong sangat unik, nama warung makan tersebut "Warung kehidupan tidak pernah berakhir."warung ini bertempat di kota Bandung barat, suasana warung makan pada saat itu ramai pengunjung membuat Galih tergelitik untuk masuk ke dalam warung makan tersebut.

"Mas ayo kita makan dulu di depan ada warung makan ."tanya Galih dengan sangat antusias karena selain lapar juga nama warungnya yang sangat unik.

"Ya ayoh lih"sahut teman Galih dengan sedikit penasaran.

Mereka akhirnya masuk ke warung makan itu, di situ mereka lihat banyak pengunjung yang sedang makan siang.

Galih penasaran setelah masuk di warung itu ternyata pengunjungnya orang berkulit putih dengan mata sipit, membuat Galih ragu mau makan disitu.

Belum lagi Galih hanya membawa uang pas pasan.

"Waduh yang makan disini ternyata orang berduit semua"ungkap Galih dengan sedikit ragu.

"Ngga papa ayo makan aja, kalau duit kita kurang kita bisa meninggalkan KTP kita."seloroh teman Galih dengan tertawa.

"Ah kamu ada ada saja mas."ungkap Galih membalas guyonan temannya.

Mereka berdua akhirnya memesan makanan dan melahapnya dengan cepat karena memang berdua sudah sangat lapar.

"Ayo siapkan KTP mu lih."tawa temannya meledek Galih.

Dengan sedikit ragu mereka kemudian menuju kasir yang ada di warung itu.

" Berapa mba"tanya Galih kepada pelayan yang ada disitu.

"Per porsi 30.000 ribu rupiah."jawab pelayan toko itu.

Akhirnya Galih membayarnya dan sedikit keheranan karena warung semegah itu dengan sajian yang beragam ternyata harga makanannya terjangkau.

Galih kemudian berupaya mencari informasi tentang warung itu, ternyata warung itu memberikan  inspirasi tentang hidup sehat dan peduli terhadap lingkungan.

"Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" (KTNB) adalah restoran vegan terkenal di Bandung yang didirikan dengan pesan filosofis dan kampanye gaya hidup sehat serta lingkunganRestoran ini menyajikan menu-menu vegan yang menggugah selera, menawarkan konsep unik dengan harga terjangkau, dan bertujuan menginspirasi orang untuk hidup lebih sehat dan peduli lingkungan."

Setelah Galih tau tentang informasi itu. Galih kemudian melanjutkan perjalanan. Dia bisa mengambil hikmah dari apa yang iya jumpai bahwa kehidupan akan terus berjalan maka kita harus hidup sehat  karena kesehatan mahal harganya dan peduli terhadap lingkungan karena lingkungan tidak hanya di butuhkan oleh generasi sekarang tetapi generasi yang akan datang.




Uniknya Kota Kembang Oleh Goly Amin Priyono


Perjalanan ke arah barat disertai dengan rintik-rintik hujan menyertai Galih  dan serombongan menuju kota kembang bandung. Suasana sore yang ramai dan jalanan yang padat karena sore itu bertepatan dengan menjelang libur nasional.

Tepat pukul 22.15 WIB mereka sampai di penginapan,  kondisi penginapan yang jauh dari jalan besar ditambah rasa capai membuat mereka langsung merebahkan badan.

Keesokan harinya tepat pukul 04.00 WIB Galih dan temannya menuju masjid Aljabar, nuansa islami melekat di masjid itu, jamaah banyak para pendatang yang memang sengaja ingin melihat keindahan masjid.

Karena keunikannya Galih pun bertanya kepada petugas yang ada di situ.

"Gimana sie sejarah masjid ini"tanya Galih kepada petugas dengan penuh tanda tanya.

"Gini mas itu yang merancang bangunan itu gubernur Ridwan Kamil mas?jawab petugas menjawab pertanyaan Galih.

Petugas pun menerangkan secara detail. 

Masjid Raya Al-Jabbar merupakan ikon baru keislaman yang berdiri megah di Kota Bandung, Jawa Barat. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2017 dan selesai pada akhir tahun 2020, diprakarsai oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Konsep arsitektur masjid ini menggabungkan unsur futuristik dengan budaya lokal, menciptakan desain unik yang memukau. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga dirancang sebagai pusat edukasi dan wisata religi bagi masyarakat.

Keunikan Arsitektur dan Desain

Arsitektur Futuristik:

Desainnya sangat berbeda dari masjid pada umumnya, menggabungkan elemen modern dengan keindahan geometris Islami pada kubah prisma dan fasad kaca yang berwarna-warni.

Konsep "Terapung":

Masjid ini dibangun mengelilingi danau, memberikan kesan terapung di atas air dan menyempurnakan pantulan bentuk masjid di permukaan air.

Tanpa Tiang Penyangga:

Bagian dalam masjid didesain tanpa tiang penyangga, menciptakan ruang yang luas dan memberikan kesan megah serta agar jamaah terasa kecil di hadapan Tuhan, demikian penjelasan Ridwan Kamil.

Kaca Geometris:

Fasad masjid menggunakan ribuan lembar kaca dengan bentuk geometris yang memancarkan cahaya alami dan warna-warni indah ketika terkena sinar matahari.

Unsur Filosofis dan Simbolis

Inspirasi Matematika:

Desain masjid didasarkan pada rumus matematika, terinspirasi dari ilmu Aljabar yang identik dengan kejayaan Islam dalam ilmu pengetahuan.

27 Pintu:

Terdapat 27 pintu di dalam masjid yang melambangkan 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, dengan ukiran batik yang berbeda-beda sesuai kekhasan masing-masing daerah.

Menara 99 Meter:

Keempat menara yang tinggi, masing-masing 99 meter, terinspirasi dari jumlah Asmaul Husna.


Galih terkesima dengan penjelasan petugas di masjid itu. Galih akhirnya ijin pamit ke petugas.

"Dah dulu ya pak, mau melanjutkan perjalanan"ungkap Galih dengan dengan senyum di bibirnya.


Galih pun banyak belajar dari pengalaman yang luar biasa bahwa masjid selain untuk ibadah juga bisa tempat wisata religi. Masjid yang menggambarkan keragaman budaya dan pengingat bahwa manusia dihadapan Illahi terasa kecil. Maka jangan pernah untuk menyombongkan diri

Tuesday, September 2, 2025

Menggapai Asa Oleh Goly Amin Priyono


Malam kian larut, Galih beserta serombongan menuju kota kembang, untuk menggapai sebuah asa untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Hawa dingin yang menusuk tubuh kami tidak membuat kami patah semangat dalam menggapai cita cita.

Tepat pukul 04.16 WIB kami pun sampai di tempat yang kami tuju di universitas swasta yang ada di kota itu dengan kultur agama sangat melekat di universitas itu.

Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, kami memasuki ruangan lomba hingga akhirnya mereka berjumpa dengan lawan yang kelihatan begitu sangat optimis menghadapi lomba.

Lomba di mulai dari babak semifinal hingga final dan masing masing peserta berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik, akhirnya Galih dan team nya masuk final namun di babak final ada jawaban yang janggal hingga akhirnya Galih pun menanyakan kepada juri.

"Gimana pak tadi jawaban kita bener, ko di salahkan."ungkap Galih kepada team juri.
"Ya bapak mohon maaf atas kekeliruan tadi"jawab salah satu juri kepada Galih.

Mereka kemudian meninggalkan ruangan lomba dengan sedikit kecewa atas jawaban team juri.

Tepat pukul 13.00 WIB kami menuju ke ruangan untuk mengikuti pengumuman lomba. Di sela-sela acara kami pun dipanggil untuk mengikuti penjelasan dari pihak panitia.

Mereka meminta permohonan maaf atas kekeliruan yang di lakukan selama lomba berlangsung. Mereka dimintai pendapat tentang kekeliruan tadi.

Masing-masing team memberikan pendapat memasrahkan keputusan pada panitia karena sudah diputuskan pemenang lomba.  Rasa kecewa menyelimuti team mereka, namun rasa kagum Galih kepada teamnya karena sudah berani menyampaikan kebenaran didepan panitia menjadi nilai tersendiri bagi team  Galih, mereka berani menyuarakan pendapat dan panitia lomba juga menerima masukan dari Galih dan teamnya.

Galih berusaha untuk tetep menyemangati teamnya untuk tetep legowo terhadap hasil yang diperoleh.

Lomba bukan sekedar untuk mencari juara tapi belajar tentang arti keikhlasan terhadap hasil dan patuh terhadap apa yang sudah diputuskan. Walaupun sejatinya mereka kecewa karena merasa dirugikan dan tidak jadi terbaik tapi mereka jadi belajar karena sejatinya tidak hanya di sekolah, namun belajar bisa di setiap kejadian dan tempat yang kita datangi.

"Semua yang kita temui adalah guru, setiap yang kita datangi adalah kelas, dan setiap kejadian adalah pelajaran.


FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...