Malam itu Aksa sepi di jendela kamarnya, memandang lampu kota yang berkelip seakan berbicara kepadanya. ‘Kenapa aku merasa tersesat di usia ini?’ gumamnya, merasa kosong meski dunia seolah penuh warna.
Teleponnya berbunyi—sebuah pesan dari sahabat lamanya, Nara. ‘Besok ketemu di taman biasa?’ Aksa menarik napas panjang. Sudah lama ia tak berbicara jujur tentang perasaannya.
Di taman keesokan sore, Nara tersenyum hangat. ‘Kau terlihat lelah, Aksa.’ ‘Aku hanya... bingung,’ jawab Aksa pelan, matanya menunduk.
Aku merasa berjalan tanpa arah. Semua orang terlihat tahu tujuan mereka, kecuali aku,’ bisik Aksa. Nara tersenyum samar. ‘Itu bukan kelemahan, Aksa. Itu tanda bahwa kau sedang mencari.’
Hening sesaat, hanya suara angin dan gesekan daun yang menemani mereka. ‘Kalau kau tak tahu tujuanmu, nikmati prosesnya. Hidup bukan sekadar garis lurus,’ kata Nara.
Aksa mengangkat kepala. ‘Tapi bagaimana jika aku gagal?’, tanyanya ragu. ‘Gagal bukan akhir. Itu bagian dari perjalananmu,’ jawab Nara tegas.
Mata Aksa mulai berkilau. ‘Aku takut mengecewakan orang-orang di sekitarku.’ ‘Kau hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi mereka, tapi untuk menemukan arti bagi dirimu sendiri,’ ucap Nara lembut.
Percakapan itu terus mengalir. Semakin lama, Aksa merasa beban di dadanya sedikit demi sedikit terangkat. Ia mulai menyadari bahwa kehilangan arah bukanlah akhir, merupakan awal pencarian baru.
Hari mulai gelap. Aksa menatap langit yang berubah dari oranye ke ungu pekat. ‘Mungkin... aku tak harus punya semua jawaban sekarang,’ katanya pelan.
Nara mengangguk. ‘Ya. Kau hanya perlu berani melangkah, meski satu langkah kecil.’ Aksa tersenyum samar untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Di perjalanan pulang, Aksa berbicara pada dirinya sendiri. ‘Aku mungkin belum tahu tujuan, tapi aku tahu aku bisa memulai.’ Ia merasa ringan, seakan langit malam memberikan harapan baru.
Beberapa hari kemudian, Aksa mulai menulis kembali. Kata-kata sederhana tentang keresahan dan harapannya. ‘Mungkin inilah caraku mencari—menulis,’ batinnya.
Ia sadar, perjalanan bukan tentang siapa yang tercepat, tapi siapa yang berani terus berjalan. Dan malam itu, Aksa menutup bukunya dengan senyum tulus.
Langit malam bertabur bintang. Aksa menatapnya dengan keyakinan baru. ‘Aku akan menemukan jalanku... perlahan tapi pasti.’

.png)
.png)
.png)
No comments:
Post a Comment