Monday, September 22, 2025

Kilaunya Emas

 Sore yang cerah Galih bermaksud membeli sebuah buku yang letaknya jauh dari rumahnya, dengan mengayuh sepeda Galih bergegas ke toko buku yang letaknya agak jauh dari rumahnya.

Sampailah Galih di sebuah toko buku yang nama toko bukunya bernama toko metro, iya masuk ke toko tersebut.

Galih menyusuri rak buku yang ada di toko itu, satu persatu rak di kunjungi hingga dia berhenti pada satu rak yang sangatlah menarik, satu persatu buku di rak tersebut di pilih hingga dia menemukan buku yang menurut Galih sangat menarik  yaitu buku sercercah cahaya.

Tanpa basa-basi Galih mengambil buku itu dan membukanya. Buku itu sangat menarik dan tertarik untuk membelinya. Galih akhirnya membeli buku tersebut.

Setelah sampai di rumah Galih membacanya, lembar demi lembar dia baca hingga menemukan kata kata yang menggelitik hatinya nikmati prosesnya. Buku itu menceritakan kisah kehidupan seorang anak muda yang gagal dalam kehidupannya hingga dia menemukan titik temu dan merubah keadaan.

Galih merenung banyak sekali peristiwa yang dia alami hingga Galih teringat dengan kata-kata orang tuanya jalani saja hidupmu biar Allah yang mengatur jalannya.

Hari sudah semakin sore suara khas ayahnya membuyarkan lamunannya.

"Nak ayo cepat mandi kita bersiap menuju masjid."ungkap ayahnya membuyarkan lamunannya. Akhirnya Galih bergegas ke mengambil air wudhu karena memang hari sudah cukup sore dan sudah masuk waktu shalat magrib.

Keesokan harinya Galih seperti biasanya berangkat ke sekolah, sesampainya di sekolah Galih dan teman-temannya di kumpulkan di depan sekolah karena hari itu ada siswa baru bernama Nabil.

Nabil merupakan siswa pindahan dari sekolah sebelah, dan perkenalan berlanjut. Nabil dan Galih akhirnya berkenalan. 

Galih memang orang yang sangat familiar dia selalu dekat dengan teman-temannya. Setelah perkenalan di depan sekolah Galih dan temannya masuk kelas, dia nampak berbincang dengan temannya sambil masuk ke dalam kelas namun matanya tampak sesekali memperhatikan Nabil.

Hari demi hari Galih dia jalani, nampak dia sangat memperhatikan Nabil, karena memang selain Nabil memiliki paras yang cantik dan juga cerdas,Galih melihat Nabil beda dengan siswa pada umumnya. Dia terlihat pendiam dan cenderung tertutup. Hal inilah yang membuat Galih sangat tertantang untuk mengenalnya lebih jauh. 

Dua bulan Galih mengenal kepribadian Nabil, Nabil yang pendiam dan cenderung tertutup ternyata memiliki kepribadian yang baik. Terkadang Galih sering melihat Nabil membantu temannya dalam segala hal terlebih tugas sekolah.

Galih semakin penasaran dengan Nabil. Selain pendiam dan cenderung tertutup ternyata nabil memiliki kepribadian dan kepedulian yang baik.

Lonceng bel sekolah berbunyi,Galih  bergegas pulang dengan mengayuh sepedanya sesekali dalam hatinya berucap.

"Oh ternyata dia baik juga ya." renung Galih sambil mengayuh sepedanya menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah Galih bercerita tentang teman barunya itu kepada ayahnya dan ayahnya memberikan wejangannya.

"Nak kamu tahu sebatang emas yang kalau dilempar ke sungai kilaunya akan terlihat ngga" tanya ayah Galih dengan bijak.

"Terlihat yah"jawab Galih dengan sedikit penasaran.

"Kenapa ayah mengibaratkan sebatang emas."lanjut Galih menanyakannya.

"Gini nak yang namanya emas akan tetep terlihat kilaunya, walaupun emas itu sudah bercampur dengan batuan yang lain, dan akan tetep memiliki nilai jual yang tinggi."jawab ayahnya dengan penuh senyum.

"Begitupun dengan manusia, manusia kalau memiliki kepribadian yang baik dan tulus di manapun berada,dia akan membantu manusia yang lain, maka kamu harus memiliki kepribadian yang baik biar itu sebagai bekal kamu dalam menjalani kehidupan sekaligus jadi ladang ibadah." lanjut ayahnya menasehati Galih.

Wejangan ayahnya membuat Galih terdiam, dalam hatinya dia berucap.

"Nabil pada dasarnya memiliki kepribadian yang baik cuma karena banyak masalah yang  dihadapinya membuat iya jadi pendiam." renung Galih sambil mencerna apa ya ayahnya katakan."

Sejak saat itulah Galih  belajar banyak hal bahwa kegagalan yang iya alami dalam menjalani kehidupan bukan sesuatu yang menghalanginya untuk melanjutkan kehidupan dan mencapai apa yang dia inginkan dan wejangan ayahnya membuatnya belajar bahwa mengenal manusia jangan hanya dari luarnya saja tapi juga kepribadiannya.




No comments:

Post a Comment

FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...