Suasana tahun ajaran baru membuat ramai sekolah itu, tampak orang tua wali mengantarkan anak-anaknya. Hiruk pikuk siswa berdatangan dan Galih di tunjuk untuk memantau dan mengabsen satu persatu Galih memanggil siswa baru tersebut. Tampak satu siswa bernama adi tidak masuk.
"Ini kenapa Adi tidak berangkat"tanya Galih dengan penuh keheranan
"Tidak tahu pak, mungkin sakit pak" jawab salah satu siswa menjawab pertanyaan Galih.
Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah, tapi di kelas itu dia menjumpai satu anak tidak masuk. Hari demi hari dilaluinya. Masa pengenalan siswa baru pun di mulai dan berlangsung tujuh hari namun sampai hari ketujuh Galih tetap tidak melihat Adi.
Galih pun kebingungan sampai hari terakhir masa pengenalan lingkungan sekolah tetep tidak melihat keberadaan Adi di tambah tidak adanya surat pemberitahuan dari orangtuanya. Akhirnya Galih pun mencari informasi melalui teman Adi yang bersekolah di situ.
Masa pengenalan lingkungan sekolah pun berlangsung dengan baik namun sampai hari terakhir, Galih tidak melihat batang hidung Adi dan pada dasarnya masa pengenalan dipakai untuk lebih mengenal sekolah baru dan suasana baru.
Karena Adi tidak masuk tanpa keterangan akhirnya Galih berinisiatif untuk mengunjunginya. Galih dapat alamat dari blangko pendaftaran yang telah di kumpulkan pada masa pendaftaran.
Terik matahari siang itu menyinari aktivitas kami di sekolah itu. Galih dan bersama Guru BK tampak bergegas menuju tempat salah satu murid yg selama ini tidak masuk sekolah.
"Ayo pak kita berangkat ke tempatnya adi" sahut Galih terhadap temannya itu.
"Iya pak" sahut temannya itu. Dalam perjalanan menuju tempat adi mereka pun sambil berbincang ringan.
Sampailah iya di tempat yang dituju dan bertemu dengan bapaknya adi dan ternyata adi sudah tidak berangkat lama karena menderita sakit.
Galih pun dengan bijak mendengarkan cerita bapaknya adi. Ternyata adi selama ini tidak berangkat karena sakit yang dideritanya. Bapaknya bercerita bahwa dia sangat terobsesi dengan mata pelajaran tertentu. Sampai bapaknya bercerita kalau dia tidak bisa mengerjakan sampai frustasi. Hal itulah yang membuat Adi sakit. Adi pernah mendapatkan perlakuan yang tidak enak dari teman-temannya, nilai sempurna yang dia peroleh pada mata pelajaran tertentu tidak serta merta membuat temannya percaya hingga akhirnya dia pengin membuktikannya bahwa nilai sempurna yang dia peroleh karena usaha dia dari belajar. Hingga Adi pernah adu mulut dengan temannya tadi.
"Hai adi kamu dapat nilai sempurna karena nyontek ya" sahut teman teman adi dengan sedikit mengejek.
"Ngga ko, aku mendapatkan nilai sempurna karena hasil kerja kerasku" jawab Adi dengan sedikit marah.
"Aku akan buktikan ke kalian omonganku." Sahut adi dengan sedikit kesal.
Perasaan kesal dan marah menyelimuti hati Adi dan karena hal itulah yang membuatnya terobsesi dengan pelajaran itu hingga membuatnya sakit, apalagi kalau ada soal yang dia tidak bisa kerjakan pasti akan berusaha sekeras mungkin untuk memecahkannya.
Kami pun akhirnya mencari informasi tentang kebenaran hal itu.
Galih dan dan Guru BK mengunjungi SMP. Disitulah Galih menemukan fakta ternyata apa yang di sampaikan Bapaknya Adi memang benar adanya.
"Ya memang Adi itu anak rajin, dia selalu tanya kalau ada PR yang iya tidak kerjakan."sahut Guru mata pelajaran yang ada disitu.
"Bahkan kami memberi hadiah ke Adi karena nilai matematikanya sempurna."lanjut Guru mata pelajaran memberikan keterangan kepada kami.
"Namun memang ada anak yang tidak percaya dengan dia hasil yang di perolehnya." Lanjut Guru mata pelajaran tersebut.
Galih dan Guru BK mendengarkan dengan seksama penjelasan Guru SMP tadi.
Setelah berbincang cukup lama dan menemukan data yang tepat mereka pamit dan kembali ke sekolah. Bukti yang mereka dapat dasar untuk mengambil keputusan.
"Kami mohon ijin pamit ibu? Terimakasih atas penjelasannya. Penjelasan ibu jadi dasar kami untuk mengambil keputusan." Sahut Galih di iringi jabat tangan.
Sesampainya di sekolah kami berdiskusi dengan teman guru dan juga team yang menangani hal itu. Yang pada akhirnya sekolah mengambil keputusan agar Adi di beri kesempatan untuk menjalani pengobatan secara rutin terlebih dahulu sampai benar benar sembuh. Soalnya kalau di paksakan akan membahayakan kesehatan dia.
Pada dasarnya Galih kepengin Adi menikmati proses pembelajaran di sekolah itu namun kondisi sakit mengharuskan dia harus berobat dalam jangka waktu lama.
Galih sadar bahwa takdir Allah memang terkadang tidak sesuai rencana manusia.
Galih bisa mengambil hikmah pelajaran yang dia dapatkan bahwa tidak semua rencana sesuai dengan jalan Allah sekaligus perlu mensyukuri setiap kejadian.
Galih menyarankan orang tua Adi untuk melakukan pengobatan secara rutin di rumah sakit.
Kehidupan Adi di jalaninya dengan iklas, dia melakukan pengobatan secara rutin dan fokus pada kesembuhan dia. Pengobatan pun dilakukan. Lambat laun Adi kembali pulih dan saran dari dokter di jalankan dengan baik.
"Mas sekarang jangan terlalu terobsesi dengan apa yang kamu kejar, nanti kamu sendiri yang rugi" pesan dokter kepada Adi.
Adi sadar bahwa dengan terobsesi dengan mata pelajaran tertentu belum tentu membuatnya sukses, malah justru membuatnya sakit dan mengabaikan mata pelajaran yang lain.
"Toh pada dasarnya kesuksesan tidak hanya dari mata pelajaran tersebut tetapi masih banyak faktor yang lain yang nantinya mendorong kamu jadi sukses" lanjut dokter yang menangani Adi dengan senyuman di bibirnya.
"Baik dok, InsyaAllah saya akan mengikuti saran dokter"jawab adi dengan penuh semangat.
Akhirnya Adi kembali sehat dan mengikuti sekolah dengan baik dan menjadi seseorang yang menjalani kehidupannya sesuai dengan kodratnya tanpa terobsesi dengan satu hal.
Adi menatap hari-harinya dengan lebih tenang tanpa risau dari bully-an teman. Mau dapat nilai berapapun Adi terima dengan baik dan apabila tidak bisa mengerjakan tugas dia bisa belajar dari temannya sehingga tugas bisa diselesaikan dengan baik dan tentunya bisa menjaga kesehatan secara lebih baik lagi.

No comments:
Post a Comment