Suasana pagi yang cerah diiringi semilir angin menambah syahdu pagi itu. seperti biasanya Galih menjalani aktivitasnya. Sebut saja Galih.
Hari-hari Galih di isi dengan aktivitas yang sama, dari mulai bangun pagi, bekerja dan pulang dalam keadaan yang capai. Rutinitas yang sama terkadang membuatnya jenuh. Kegagalan hidup yang dialaminya membuatnya merenung atas semua peristiwa yang terjadi
Galih selalu mencoba membangun semangatnya yang hilang, dia mencoba untuk menemukan jatidirinya, Kegagalan dalam hidup ini justru membuat jadi terpacu untuk membuktikan kepada seseorang yang selama ini menyepelekannya. Tiga tahun sudah Galih hidup dalam kesendirian, Iya mencoba merenung apa yang salah dalam hidupnya.
"Apa yang salah dalam hidupku."
"Apa yang aku targetkan ternyata meleset dari rencana." Ungkap Galih terbesit dalam benaknya.
Kegagalan demi kegagalan dari mulai kerja, keluarga dan kesehatan yang membuat dia berjuang dalam hidup dan mati.
Dalam tiga tahun dalam kesendiriannya, iya menemukan banyak hal yang selama ini hilang, Satu persatu iya jalani dan yakini, hingga menemukan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Galih sadar apa yang di lakukan selama ini hanya memikirkan urusan dunia tanpa memikirkan urusan akhirat.
Kejenuhan dan kegagalan dalam hidup menjadi pemacu untuk melakukan aktivitas yang selama ini hilang. Rutinitas shalat malam iya jalani dengan istiqomah, yang tidak lain adalah untuk memperoleh ketenangan jiwa dan mendekatkan diri kepada sang pencipta dan di saat yang bersamaan Galih juga mencoba untuk memperbaiki diri, iya belajar dari motivasi diri dari orang lain. Hal itulah yang membuatnya kembali tenang dan semangat dalam menjalani kehidupan.
Memasuki tahun ajaran baru Galih terlibat dalam kegiatan sekolah yaitu menjadi panitia penerimaan siswa baru. Hal inilah kesempatan yang di pakai Galih untuk membuktikan kepada teman temannya, bahwa dia mampu. Kesempatan ini tidak di sia-siakan Galih untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya.

No comments:
Post a Comment