Tuesday, September 16, 2025

MENGGAPAI CAHAYA Oleh Goly Amin Priyono, S. Pd


Suasana sore itu tampak cerah seperti biasanya Raka duduk di teras depan rumahnya menatap langit yang sore itu begitu indah. Dalam hatinya dia termenung apakah dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis besar. Di bidang akademik aka tergolong biasa saja dan bukan termasuk orang yang pintar di kelasnya, namun keinginannya dan tekad begitu kuat.


Suatu hari guru mereka memberi tugas menulis tentang cita-cita. Raka ragu, tangannya gemetar saat memegang pena. Raka menulis keinginannya. Guru itu tersenyum melihat tulisan Raka yang kekuatan menyentuh hati. Guru itu berkata jangan berkecil hati teruslah berusaha hingga kamu menemukan cahaya dalam dirimu meski begitu, perjalanan Raka tidak mudah. beberapa temannya menertawakan mimpinya, bilang itu mustahil. Namun Raka mengingat kata gurunya jangan pernah padamkan cahaya dalam dirimu. Setiap malam, Raka mulai menulis cerita pendek di bukunya. Ia menulis tentang petualangan, persahabatan, dan harapan walau sering lelah, menulis membuat hatinya tenang.


Raka pengin sekali mewujudkan semua mimpi-mimpinya menjadi penulis besar. Hari demi hari iya jalani dengan menulis. Kehidupan Raka semakin hari semakin menyala seperti obor di tengah kegelapan, kebiasaan Raka menulis terus berlanjut.


Sepulang sekolah iya mengobrol dengan temannya sebut aja Aska. Aska merupakan teman sekelas Raka yang sangat peduli, Raka bercerita tentang ulah teman-temannya yang menertawakannya bahkan kadang membuatnya minder namun aska sahabat yang baik dia selalu mendengarkan keluhan Raka, selain tinggal di desa yang sama, mereka juga pada saat kecil sering bermain bareng sehingga tahu persis watak dan karater temannya itu. Walaupun teman-teman Raka di sekolah sering mentertawakan tentang cita-cita Raka menjadi seorang penulis besar, tapi Aska sangat menghargai cita-cita Raka.


Suatu hari sekolah mereka mengadakan lomba menulis, lomba menulis ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun sekolah mereka. Pamflet mengenai lomba tersebar di seluruh kelas di sekolah itu. Namun Raka terlihat tidak antusias dan terhadap lomba itu dan terlihat murung, melihat hal itu aska menghampirinya.

“Raka ayo kamu ikut lomba menulis kayanya pas deh buat kamu, kamu kan biasa menulis.” sahut aska yang menghampirinya.

"Ayolah ini momen bagus untuk kembangkan tulisanmu.” ungkap Aska dengan meminum sebotol minuman es yang dibelinya di kantin sekolah. Dengan senyum lebarnya Raka kemudian membalas pertanyaaan temannya itu.

“Ah buat apa?” jawab Raka dengan sedikit muram.

“Mereka pasti akan mentertawakanku” sahut Raka dengan  mengambil botol minuman yang di bawakan oleh Aska.

“Jangan gitu, malah ini justru ini sebagai pemacu semangat buat kamu untuk membuktikan kepada mereka bahwa apa yang mereka tertawakan salah.” tegas Aska dengan penuh semangat.

“Kamu mau kan membuktikan kepada mereka.” Lanjut Aska menegaskan dan meyakinkannya.

“Tapi pasti mereka menertawakanku karena mereka menganggap ambisiku terlalu tinggi” jawab Raka dengan sedikit kesal.

“Lalu sampai kapan kamu mau membuktikan kepada mereka.” tegas Aska dengan tatapan tajamnya.

“Entahlah.” jawab Raka seraya meninggalkan  temannya itu.

            Rintik hujan yang mulai membasahi sekolah mereka menambah suasana sore semakin syahdu. Raka duduk termenung di sudut sekolah, iya memikirkan ucapan temanya tadi. Dalam hatinya ini iya berucap sebenarnya kesempatan baik untuk membuktikan kepada teman-teman yang menertawakannya namun iya sadar kemampuan menulisnya baru sebatas menyalurkan hobi dan menyalurkan bakat saja.

Hari demi hari Raka selalu kepikiran perkataan Aska akan lomba itu. Hari perlombaan semakin dekat namun Raka belum mengambil keputusannya untuk mengikutinya. Iya masih ragu untuk mengambil Keputusan. Kurang dari dua hari penutupan pendaftaran lomba menulis, Raka pun akhirnya memantapkan hatinya untuk mengikuti lomba tersebut. Raka akhirnya mencoba untuk menulis lagi kata-kata yang muncul dalam pikirannya iya tuangkan dalam sebuah tulisan dan akhirnya sebuah cerpen tersaji. Raka pun akhirnya mengikuti lomba tersebut. Prinsip Raka pada dasarnya sangat sederhana iya hanya ingin membuktikan kepada temannya bahwa apa yang dicita-citakan bukan hal yang mustahil dan suatu hari nanti akan terwujud.

            Saat lomba menulis diumumkan di sekolah, Ia tahu banyak yang lebih pandai, tetapi ia ingin mencoba. Dengan jantung berdebar menunggu hari pengumuman tiba, aula sekolah penuh dengan sorak sorai. Ketika namanya disebut sebagai pemenang, Raka tak percaya. Ia berdiri dengan tangan gemetar, sorot mata bahagia menyala.


Sejak hari itu, Raka mulai berani bermimpi lebih besar. Ia tahu jalannya panjang, penuh tantangan dan ragu. Tapi ia belajar bahwa satu langkah kecil bisa membuka jalan besar. Kini, setiap kali menatap langit sore, Raka tersenyum. Ia tahu, mimpinya bukan hanya angan kosong. Karena keberanian untuk memulai  sudah miliki
































































































No comments:

Post a Comment

FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...