Malam kian larut, Galih beserta serombongan menuju kota kembang, untuk menggapai sebuah asa untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Hawa dingin yang menusuk tubuh kami tidak membuat kami patah semangat dalam menggapai cita cita.
Tepat pukul 04.16 WIB kami pun sampai di tempat yang kami tuju di universitas swasta yang ada di kota itu dengan kultur agama sangat melekat di universitas itu.
Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, kami memasuki ruangan lomba hingga akhirnya mereka berjumpa dengan lawan yang kelihatan begitu sangat optimis menghadapi lomba.
Lomba di mulai dari babak semifinal hingga final dan masing masing peserta berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik, akhirnya Galih dan team nya masuk final namun di babak final ada jawaban yang janggal hingga akhirnya Galih pun menanyakan kepada juri.
"Gimana pak tadi jawaban kita bener, ko di salahkan."ungkap Galih kepada team juri.
"Ya bapak mohon maaf atas kekeliruan tadi"jawab salah satu juri kepada Galih.
Mereka kemudian meninggalkan ruangan lomba dengan sedikit kecewa atas jawaban team juri.
Tepat pukul 13.00 WIB kami menuju ke ruangan untuk mengikuti pengumuman lomba. Di sela-sela acara kami pun dipanggil untuk mengikuti penjelasan dari pihak panitia.
Mereka meminta permohonan maaf atas kekeliruan yang di lakukan selama lomba berlangsung. Mereka dimintai pendapat tentang kekeliruan tadi.
Masing-masing team memberikan pendapat memasrahkan keputusan pada panitia karena sudah diputuskan pemenang lomba. Rasa kecewa menyelimuti team mereka, namun rasa kagum Galih kepada teamnya karena sudah berani menyampaikan kebenaran didepan panitia menjadi nilai tersendiri bagi team Galih, mereka berani menyuarakan pendapat dan panitia lomba juga menerima masukan dari Galih dan teamnya.
Galih berusaha untuk tetep menyemangati teamnya untuk tetep legowo terhadap hasil yang diperoleh.
Lomba bukan sekedar untuk mencari juara tapi belajar tentang arti keikhlasan terhadap hasil dan patuh terhadap apa yang sudah diputuskan. Walaupun sejatinya mereka kecewa karena merasa dirugikan dan tidak jadi terbaik tapi mereka jadi belajar karena sejatinya tidak hanya di sekolah, namun belajar bisa di setiap kejadian dan tempat yang kita datangi.
"Semua yang kita temui adalah guru, setiap yang kita datangi adalah kelas, dan setiap kejadian adalah pelajaran.

No comments:
Post a Comment