Saturday, August 30, 2025

Mutiara yang Terlupakan Oleh Goly Amin Priyono

 "Dalam muara keindahan lekuk bulan sabit yang merekah. Bagaimanakah ku percaya bahwa semalam suntuk pipimu tak pernah basah. Kerap ku lihat kedua mata cekung mu terlelap diatas bantalan kapuk. Meringkuk bersama setumpuk yang senantiasa kau peluk." Begitu sekelumit puisi milik Damara.

Galih terkesima dengan puisi yang ditulis oleh seorang siswanya. Tanpa sadar mata Galih pun meneteskan air mata, iya teringat perjuangan ibunya dalam membesarkan anak-anaknya. Galih besar dan hidup dalam kesederhanaan. Doa-doa yang ibunya panjatkan setiap malam, belum juga membuahkan apa yang di inginkan. Sambil mengusap kedua bola matanya Galih pun terdiam tidak melanjutkan mengoreksi puisi yang lain.

Dalam renungannya Galih pengin sekali mewujudkan keinginan kedua orang tuanya.

"Kapan yah aku mewujudkan semua mimpi- mimpiku untuk membahagiakan kedua orang tuaku" benak Galih  yang diliputi rasa kalutnya.

"Ah lakukan yang kau bisa dan mampu, insya Allah sang pencipta akan membantuku." Timpal Galih menyemangati diri sendiri.

Galih kemudian melanjutkan koreksinya karena memang dia sedang di beri tugas untuk membantu mengoreksi puisi siswa yang akan ikut lomba tingkat Jawa Tengah.

Kehidupan Galih yang berantakan, membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah.

Dia menyusun ulang semua rencana dari awal. Mencoba hal baru yang selama ini belum iya lakukan.

Hari-hari Galih semakin membaik, hingga akhirnya iya menemukan suatu titik yang selama ini iya cari.

Sekarang dia fokus dan tenang pada apa yang dia rencanakan dan setiap menghadapi masalah iya berusaha untuk mencari solusi nya.

Iya juga mengontrol emosinya yang menggebu, jangan sampai emosi yang datang meluluh lantakkan semua rencananya dan mengontrol kecemasan yang ada dalam dirinya.

Galih tumbuh jadi orang dengan kepribadian yang baru. Galih pasrah dengan semua yang terjadi dan berserah diri kepada Allah.

Galih akhirnya mewujudkan mimpi ibunya.  Ibu Galih kepengin anaknya hidup bahagia.

Kehidupan Galih semakin baik. Dia juga berusaha membahagiakan kedua orang tua nya.

Setiap Galih libur kerja Galih mengajak kedua orang tuanya untuk berlibur sekaligus melepaskan penat.

Suasana sore itu sangat cerah matahari yang beranjak meninggalkan awan,  tepat pukul 16.00 WIB sepulang kerja dari kantor Galih duduk-duduk dengan kedua orang tuanya sambil berbincang-bincang ringan.

"Ayo pak, bu kita berlibur" tanya Galih kepada kedua orang tuanya.

"Kemana?" Tanya ibunya kepada Galih dengan menikmati suasana sore yang cerah.

"Ya kemana yang ibu mau?" jawab Galih sambil meminum kopi kesukaan buatan ibunya.

"Ngga usah lah, nikmati aja liburanmu." Seminggu ini kamu kerja full."jawab ibunya dengan sedikit senyum.

"Ibu itu seperti itu, setiap diajak pasti ngga mau."ungkap Galih dengan sedikit kecewa.

Melihat sikap Galih yang sedikit kecewa dengan jawabannya, ibunya kemudian mengiyakan apa yang iya minta.

"Ya udah ibu pengin ke Bandung, sambil ke rumah adikmu." jawab ibunya dengan sedikit senyum di bibirnya.

"Ayo bu besok berangkat ya, sekaliyan Galih pengin mengajak bapak sama ibu mengunjungi tempat wisata yang ada di sana." jawab Galih dengan penuh semangat.

Galih memang selama ini hampir tidak pernah membahagiakan kedua orang tuanya. Kesibukan Galih di kantor membuat nya lalai membahagiakan kedua orang tuanya.

Galih sadar bahwa selama ini yang iya lakukan hanya mengejar impiannya tapi lupa membahagiakan kedua orang tuanya.

Padahal iya bisa bekerja itu juga karena kedua orang tuanya. Kejadian yang menimpa dirinya membuat matanya terbuka. Apa yang selama ini iya peroleh, pekerjaan, rejeki iya dapatkan belum sepenuhnya membahagiakan kedua orang tuanya. Galih sadar bahwa bakti anak kepada kedua orang tuanya menjadi tanggung jawabnya dan kebahagiaan kedua orang tuanya menjadi hal mutlak yang Iya harus lakukan.

Selama ini iya hanya fokus pada apa yang iya rencanakan, tapi masih menghadapi kendala dalam mencapainya. Akhirnya Galih berusaha menyusun ulang semua rencananya sambil membahagiakan kedua orang tuanya dan kehidupan Galih semakin lebih baik. Semua apa yang di rencanakan terwujud. Kedua orang tuanya pun bahagia melihat anaknya sukses dan bahagia.

Restu orang tua adalah restu Allah dan kebahagiaan Orang tua merupakan kebahagiaan Allah.






No comments:

Post a Comment

FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...