Saturday, August 30, 2025

Petualangan Oleh Goly Amin Priyono

Pagi itu tepat pukul 06.45 WIB Galih sudah bersiap untuk mengikuti upacara bendera. Suasana pagi itu tampak cerah, membuat upacara berlangsung dengan khidmat.

Pembina upacara pada saat itu menyampaikan arahan tentang pentingnya tentang kesadaran dan tanggung jawab sebagai siswa. Ini sebagai bekal agar nantinya mereka bisa bertanggung jawab terhadap segala hal di dalam kehidupan.

Setelah selesai upacara Galih berbincang di sudut sekolah yang tampak hijau dengan tanaman di sekelilingnya dengan salah satu teman guru.

"Pak tadi sambutannya ngena banget ya?"tanya Galih kepada temannya itu.

"Maksudnya?" Ungkap temannya kepada Galih.

"Gini terkadang manusia hanya mengejar dunia saja, terkadang kita lalai dengan tanggung jawab kita. Dunia yang selalu kita kejar  padahal kehidupan sesungguhnya di akhirat lebih lama." jawab Galih dengan serius.

"Jangan sok alim kamu."gurau temannya kepada Galih.

"Bukannya sok alim, yang kita kejar sekarang apa coba"jabatan, kekayaan, uang dll kan? ungkap Galih dengan nada serius.

"Ya memang sie, memang manusia tidak ada cukupnya. Terkadang kita terlalu fokus dengan apa yang kita inginkan sampai lupa bahwa semua itu milik Allah."ungkap teman Galih dengan sedikit senyum.

"Kekayaan, jabatan, bahkan pasangan hidup itu takdir Allah dan kalau kita lupa kebesarannya semuanya akan musnah"

"Manusia boleh berencana dan berusaha tapi hasil itu hak prerogatif Allah."timpal teman Galih dengan senyum.

Galih merenung dengan kata kata temannya tadi, Galih sudah merasakan semuanya. Karir,jabatan, kekayaan yang Galih bangun selama ini hampir hilang bak ditelan bumi.

"Ngelamun aja kamu, diajak bicara malah ngelamun" ungkap teman Galih dengan agak kecewa.

"Ya yah, aku lagi berfikir dengan hidup yang aku alami."jawab Galih dengan memandang temannya itu.

"Jangan dipikir, dijalani aja, toh nantinya pasti kamu akan menemukan hikmah yang dari setiap kejadian."timpal teman Galih dengan memberikan sedikit perhatian biar Galih semangat menjalani hidup.

Galih sadar bahwa selama ini iya hanya memikirkan dunia saja, Galih pun bertekad untuk mengikuti apa yang menjadi ketentuan Nya. Seperti air yang mengalir menyusuri lembah yang curam. Namun akan berhenti di muara sungai yang di sekelilingnya tumbuh tanaman yang sangat hijau dan lebat.

Begitu juga dengan perjalanan hidup yang Galih alami, lika-liku kehidupan membawanya pada kesadaran bahwa kesuksesan akan terbentuk dari jiwa yang kuat dan pasrah terhadap takdir Nya. 

Dia tidak akan mengejar apa yang menjadi mimpi dan cita-cita nya tapi akan mengikuti alur  dan proses nya yang penting usaha dan doa.

Perbincangan mereka pun terhenti karena bel masuk berbunyi.

"Eh ayo masuk itu sudah bel." Timpal Galih mengakhiri obrolan mereka.

Galih dan temannya akhirnya menuju kelas. Sesampainya di kelas Galih menyampaikan pembelajaran dengan agak nyantai tentang pengelolaan sumber daya alam hingga akhirnya ada anak yang bertanya.

"Pak bagaimana cara kita agar kita bisa menikmati segala kekayaan alam yang ada di Indonesia dengan baik, sementara masih sering terlihat kerakusan manusia membuat kita lalai dalam memanfaatkannya."tanya seorang siswa dengan penuh serius.

"Gini mas kamu tahu mengapa Allah menurunkan  hujan?' Hujan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan seluruh isi alam yang ada disitu."jawab Galih dengan serius.

Galih mencontohkan kejadian yang relevan dengan kehidupan bahwa hujan akan tetep terjadi karena Allah tahu bahwa hujan dibutuhkan seluruh alam untuk kehidupan. Walaupun hujan  terkadang membuat orang jadi malas berangkat kerja atau melakukan aktivitas. 

Bintang  juga akan tetep bersinar walaupun sinarnya akan kalah dengan bulan dan matahari, karena Allah tahu dibelahan bumi yang lain masih malam sehingga sinarnya akan terlihat indah.

Begitu pun kodrat manusia yang pada dasarnya manusia harus mencontoh alam, bagaimana manusia harus berbuat baik kepada alam atau kepada manusia yang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. 



Berbuat baiklah kepada manusia dan alam tanpa mengharapkan imbalan apapun dan jadikan semua itu sebagai ladang ibadah untuk mengharap rido Allah.

Terkadang mereka melakukan sesuatu hanya sekedar untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, ingin terlihat pintar, ingin terlihat peduli dan ingin terlihat kaya. Mereka halalkan segala cara untuk mendapatkan itu yang pada akhirnya  mereka puas karena apa yang diinginkan tercapai. Namun mereka lupa bahwa pujian  kalau tidak di kelola dengan baik bisa jadi gerbang awal kehancuran manusia dan dikala tidak siap dengan ujian yang datang dengan tiba-tiba, Allah  mencabut kenikmatan semua itu, kehidupan mereka pun jadi hancur.

Begitu pun juga dalam memanfaatkan alam jangan sampai berlebihan yang nantinya akan merusak alam dan menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri.

Sejatinya kebutuhan manusia pada dasarnya sudah ada di dalam diri manusia tinggal memanfaatkan dan mengenali potensi yang dimilikinya.

Berkaca dari situ kita akan sadar bahwa sejatinya manusia punya potensi yang kuat untuk menjadikan seseorang menjadi kaya dan pintar dan semua akan tercukupi tanpa harus ada pengakuan dan pujian dari orang lain. Mereka akan melihat dengan sendirinya apa yang sudah dilakukannya.

Tinggal bagaimana kita menjalani dan mengenalinya diri kita secara baik. Sehingga potensi akan bisa dimanfaatkan dengan baik tidak hanya untuk pribadi tapi juga bisa untuk orang banyak.

Anak tersebut terkesima dengan jawaban Galih. Karena jam pembelajaran telah berakhir Galih pun menutup pembelajaran di kelas itu slogan.

"Hasil yang baik, dibentuk dari tauladan yang baik"

Dan tepuk tangan pun bergemuruh. Membuat suasana hari itu pun cukup ceria









No comments:

Post a Comment

FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...