Raka berdiri di sekolah barunya. Jantungnya berdebar kencang. Ia melihat anak-anak lain tertawa dan bermain bersama. Raka merasa sangat kecil dan pemalu. Ia ingin sekali punya teman, tapi mulutnya terasa terkunci.
"Aku tidak boleh menyerah," bisiknya pada diri sendiri. "Aku harus berani. Aku akan mencoba." Raka menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk. Di kelas, ia duduk di bangku paling belakang, berharap tidak ada yang memperhatikannya.
Guru mengumumkan tugas kelompok. "Kalian akan membuat maket taman kota," kata Bu Guru. "Satu kelompok terdiri dari empat orang." Raka menelan ludah. Ia melihat anak-anak lain sudah mulai membentuk kelompok. Ia merasa semakin cemas.
Tiga anak, Nisa, Danu, dan Sinta, masih mencari anggota. Nisa melihat Raka yang duduk sendirian. "Hai, mau gabung dengan kami?" tanya Nisa dengan senyum ramah. Raka terkejut. Ia ragu, tapi teringat janjinya.
Raka mengangguk pelan. "Iya, mau," jawabnya dengan suara pelan. Nisa, Danu, dan Sinta menyambutnya dengan gembira. Mereka mulai berdiskusi tentang maket. Nisa mengusulkan membuat air mancur, Danu ingin membuat ayunan, dan Sinta ingin membuat kolam ikan.
Raka hanya mendengarkan. Ia ingin berkontribusi, tapi takut idenya tidak bagus. "Bagaimana dengan Raka?" tanya Danu. "Kamu punya ide?" Raka terdiam sejenak. Ia melihat bahan-bahan di meja: kardus, kertas warna, dan lem.
"Bagaimana kalau kita membuat jembatan kecil di atas kolam ikan?" kata Raka dengan suara yang lebih mantap. "Kita bisa pakai stik es krim." Nisa, Danu, dan Sinta tersenyum. "Ide bagus!" kata Sinta.
Raka mulai mengambil peran. Ia dengan teliti memotong stik es krim dan menyusunnya menjadi jembatan. Danu membantunya menempelkan stik-stik itu. Nisa dan Sinta sibuk membuat pohon-pohon kecil dari kertas. Mereka bekerja sama dengan gembira.
Maket taman kota mereka selesai. Ada air mancur, ayunan, kolam ikan, dan jembatan stik es krim yang indah. Bu Guru memuji karya mereka. Tapi yang paling penting bagi Raka, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia punya teman.
Sejak hari itu, Raka, Nisa, Danu, dan Sinta menjadi sahabat. Raka belajar bahwa keberanian kecil bisa membuka pintu persahabatan yang besar. Ia tidak pernah menyerah, dan ia menemukan tempatnya.

No comments:
Post a Comment