Raka menatap langit sore dari jendela kamarnya. Sejak kecil ia sering bertanya-tanya apakah mimpi bisa menjadi kenyataan. Hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba.
Di sekolah, Raka sering merasa biasa saja dibanding teman-temannya. Nilainya tidak selalu paling tinggi, dan ia bukan yang paling populer. Namun ada api kecil dalam dirinya yang belum pernah padam.
Suatu hari, Bu Lestari, guru mereka, memberi tugas menulis tentang cita-cita. Raka ragu, tangannya gemetar saat memegang pena. Tetapi ia mulai menulis tentang impiannya menjadi penulis besar.
Tulisan itu ternyata membuat Bu Lestari tersenyum bangga. Bu Lestari bilang, kata-kata Raka punya kekuatan menyentuh hati. Untuk pertama kalinya, Raka percaya ia memiliki sesuatu yang unik.
Meski begitu, perjalanan Raka tidak mudah. Beberapa temannya menertawakan mimpinya, bilang itu mustahil. Namun Raka mengingat kata gurunya: jangan padamkan cahaya dalam diri.
Setiap malam, Raka mulai menulis cerita pendek di bukunya. Ia menulis tentang keberanian, persahabatan, dan harapan. Walau sering lelah, menulis membuat hatinya tenang.
Saat lomba menulis diumumkan di sekolah, Raka memberanikan diri ikut. Ia tahu banyak yang lebih pandai, tetapi ia ingin mencoba. Dengan jantung berdebar, ia mengumpulkan tulisannya.
Hari pengumuman tiba, aula sekolah penuh dengan sorak sorai. Ketika namanya disebut sebagai pemenang, Raka tak percaya. Ia berdiri dengan tangan gemetar, sorot mata bahagia menyala.
Sejak hari itu, Raka mulai berani bermimpi lebih besar. Ia tahu jalannya panjang, penuh tantangan dan ragu. Tapi ia belajar bahwa satu langkah kecil bisa membuka jalan besar.
Kini, setiap kali menatap langit sore, Raka tersenyum. Ia tahu, mimpinya bukan hanya angan kosong. Karena keberanian untuk memulai sudah ia miliki.

.png)
No comments:
Post a Comment