Perjalanan Galih ke arah barat yaitu ke kota Bandung dalam pengembaraan mencari jatidiri memberikan banyak pelajaran yang sangat berarti dalam hidupnya.
Pagi itu bertepatan dengan libur nasional memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W, waktu itu menunjukkan pukul 04.00 WIB, Galih beserta temannya menuju masjid yang penuh dengan nuansa yang khas dan bangunan arsitektur yg sangat bagus di kota Bandung.
Mereka bergegas untuk menuju masjid Aljabar yang konon menurut orang-orang yang sudah mengunjunginya terasa begitu nikmat dan seperti di Mekah. Akhirnya Galih dan temannya menuju masjid itu dan jauh dari tempat penginapan yang mereka tempati.
Jalanan yang cukup ramai karena banyak orang yang berangkat pagi untuk melakukan aktivitas menikmati libur panjang membuat lalu lintas di kota itu mengalami kemacetan.
Di tengah perjalanan Galih sambil berbincang kepada temannya.
"Gimana mas jalanan macet seperti ini, masihkah kita bisa shalat subuh berjamaah di masjid Al Jabbar."tanya Galih kepada temannya itu.
"Tenang aja nanti kita pasti tepat waktu."jawab teman Galih dengan tenangnya."
Sambil bergumam dalam hatinya.
"Mana mungkin jalan macet seperti ini ko bisa tepat waktu."gumam Galih dalam hatinya.
Sambil berdzikir menyebut asma Allah dan shalawat kepada nabi Galih tetap melanjutkan perjalanannya.
Berdering telepon temannya membuat Galih terkejut membuyarkan dzikirnya sebut saja Ali.
Di tengah-tengah obrolan dengan Ali melalui sambungan telepon, Galih teringat bahwa temannya itu tinggal di Bandung sudah cukup lama.
Ali memang tinggal di bandung, karena tuntutan kerja yang menuntut dia menetap di kota itu, kesempatan ini membuat Galih bertanya kepada Ali.
"Ali arah yang cepat menuju ke masjid Aljabar itu lewat mana ya?"tanya Galih lewat telepon. Ali akhirnya memberikan informasi jalan di lalui.
Buah dari kesabaran dan keteguhan mereka akhirnya sampai di masjid itu dengan tepat waktu dan shalat berjamaah bersama dan bonusnya Galih bisa shalat di saf paling depan.
Sepulang dari masjid Galih dan temannya menuju tempat penginapan ya iya tinggali beserta teman yang lainnya.
Sesampainya di tempat penginapan Galih berbincang-bincang dan menanyakan tujuan yang mereka akan kunjungi dan akhirnya rombongan ingin mengunjungi tempat perbelanjaan di kota itu yang menurut orang-orang tempat itu sangat khas Bandung dan sekedar untuk memberikan oleh-oleh buat keluarga tercinta di rumah.
Sampailah Galih dan rombongan di tempat itu.
Galih melihat toko yang menjajakan barang khas kota itu. Akhirnya Galih dan temannya berhenti di toko itu, toko itu tampak ramai pengunjung.
Galih turun dari mobil yang iya tumpangi, tapi Galih melihat keanehan yang terjadi di toko itu.
"Banyak banget ya pengunjung"renung Galih dengan sedikit keheranan karena tidak pernah melihat toko seramai itu di tempat lain.
Galih melihat barang barang yang dijajakannya dan tertarik membeli sebuah barang di toko itu.
"Ini berapa pak"tanya Galih kepada pemilik toko itu.
"Ini gratis mas."jawab pemilik toko itu dengan sedikit senyum
"Ko gratis pak, nanti bapak rugi lho diberikan secara gratis dagangannya."jawab Galih kepada pemilik toko.
"Jangan merasa rugi mas dengan apa yang sudah diberikan Allah. Saya bisa bangun toko ini atas doa ibu dan ijin Allah mas, makanya saya ingin membahagiakan ibu saya dengan berbagi hanya sekedar membahagiakan orang-orang yang selama ini tidak bisa membeli karena keterbatasan biaya."jawab pemilik toko dengan seksama memberikan penjelasan kepada Galih.
Jawaban tadi menggetarkan hati Galih.
"Masya Allah masih ada ya di zaman sekarang orang yang mulia itu"ungkap Galih dalam benaknya sambil memilih barang dagangan yang ada di toko itu.
" Ya udah pak ini sedikit uang hanya sekedar mengganti barang dagangan yang bapak berikan ke orang-orang tadi."ungkap Galih kepada pemilik toko itu.
"Ngga usah mas, silahkan kalian milih aja, ini sudah jadi kebiasaan saya setiap hari jumat untuk berbagi."jawab pemilik toko tersebut.
Kebiasaan bapak tadi sudah dilakukannya sejak lama sejak lama dia teringat nasihat ibunya untuk berbagi kepada sesama dan bapak itu berasumsi bahwa dengan berbagi ibunya akan senang dan kebahagiaan ibunya sama saja kebahagiaan Allah.
"Ya udah ya pak." Makasih atas pelajaran yang bapak berikan dan saya hanya berdoa mudah mudahan usaha bapak lancar dan bapak tadi mengamininya.
Galih akhirnya pamit meninggalkan toko itu dengan membawa pelajaran yang sangat berarti bahwa kita tidak boleh mengandalkan urusan dunia saja tapi juga urusan Akhirat dan kesabaran di dalam menghadapi masalah menjadi hal yang penting untuk menjadikan pribadi yang tenang dan mensyukuri semua kejadian baik itu baik atau buruk dan nikmat yang diberikan.
Perjalanan ke masjid dengan di iringi kemacetan yang luar biasa tidak menyurutkan niat Galih untuk tetap beribadah di masjid itu. Dengan diiringi dzikir sepanjang perjalanan akhirnya Allah memberikan petunjuk melalui Ali agar Galih sampai dengan cepat ke masjid itu dan bisa shalat berjamaah di saf paling depan.
Pemilik toko juga mengajarkan arti pentingnya sedekah. Sedekah dengan iklas tidak hanya memberikan keberkahan bagi dirinya dan kebahagiaan bagi ibunya saja tapi juga orang banyak karena pemilik toko tidak mengejar urusan dunia saja tapi juga akhirat, dan juga kepedulian kepada sesama memberikan pelajaran bahwa kita hidup di dunia itu tidak sendiri pasti membutuhkan bantuan orang lain.
KEJARLAH AKHIRAT MU MAKA DUNIA AKAN MENGIKUTINYA.

No comments:
Post a Comment