Saturday, August 30, 2025

Sajadahku Oleh Goly Amin Priyono

Suasana pagi yang cerah  diiringi  semilir angin menambah syahdu pagi itu. seperti biasanya Galih menjalani aktivitasnya. Sebut saja Galih. 

Hari-hari Galih di isi dengan aktivitas yang sama, dari mulai bangun pagi, bekerja dan pulang dalam keadaan yang capai. Rutinitas yang sama terkadang membuatnya jenuh. Kegagalan hidup yang dialaminya membuatnya merenung atas semua peristiwa yang terjadi

Galih selalu mencoba membangun semangatnya yang hilang, dia mencoba untuk menemukan jatidirinya, Kegagalan dalam hidup ini justru membuat jadi terpacu untuk membuktikan kepada seseorang yang selama ini menyepelekannya. Tiga tahun sudah Galih hidup dalam kesendirian, Iya mencoba merenung apa yang salah dalam hidupnya.

"Apa yang salah dalam hidupku." 

"Apa yang aku targetkan ternyata meleset dari rencana." Ungkap Galih terbesit dalam benaknya.

Kegagalan demi kegagalan dari mulai kerja, keluarga dan kesehatan yang membuat dia berjuang dalam hidup dan mati.

Dalam tiga tahun dalam kesendiriannya, iya menemukan banyak hal yang selama ini hilang, Satu persatu iya jalani dan yakini, hingga menemukan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Galih sadar apa yang di lakukan selama ini hanya memikirkan urusan dunia tanpa memikirkan urusan akhirat.

Kejenuhan dan kegagalan dalam hidup menjadi pemacu untuk melakukan aktivitas yang selama ini hilang. Rutinitas shalat malam iya jalani dengan istiqomah, yang tidak lain adalah untuk memperoleh ketenangan jiwa dan  mendekatkan diri kepada sang pencipta dan di saat yang bersamaan Galih juga mencoba untuk memperbaiki diri, iya belajar dari motivasi diri dari orang lain. Hal itulah yang membuatnya kembali tenang dan semangat dalam menjalani kehidupan. 

Memasuki tahun ajaran baru Galih terlibat dalam kegiatan sekolah yaitu menjadi panitia penerimaan siswa baru. Hal inilah kesempatan yang di pakai Galih untuk membuktikan kepada teman temannya, bahwa dia mampu. Kesempatan ini tidak di sia-siakan Galih untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya.

Penerimaan siswa baru pun di mulai, hari-hari dij alani dengan senyum, menerimanya dengan tulus dan memberikan arahan apabila ada berkas yang kurang, iya hanya pengin memberikan pelayanan yang terbaik kepada orang tua yang mau menyekolahkan anaknya di situ.

Ketulusan Galih dalam hal pelayanan iya lakukan untuk memberikan pelayanan terbaik buat sekolahnya. Galih tidak mengharapkan apapun dari sekolah, soal hasil adalah bonus yang di berikan sang pencipta.

Hari itu adalah hari terakhir semua panitia di kumpulkan dan melakukan sebuah evaluasi, tanpa basa basi ketua panitia menyampaikan capaian selama pendaftaran dan nama Galih di sebutkan sebagai petugas pelayanan yang memiliki trafik paling bagus. 

Ketulusan yang iya jalani pada akhirnya bisa membuktikan bahwa dengan ketulusan dan pelayanan terbaik menjadikan dirinya di nobatkan sebagai operator dengan trafik paling tinggi dan bisa memberikan kesan yang baik bagi lingkungan kerjanya.

Bersyukur Oleh Goly Amin Priyono

Kehidupan Galih semakin lebih baik, ya kembali menemukan jatidirinya, hari demi hari dia jalani sebagai bagian dari proses kehidupan.

Di tengah hiruk pikuk kota yang padat dan lalu lalang kendaraan bermotor, menambah panasnya suasana kota saat itu.

Seperti biasa Galih menyempatkan makan siang di sebuah warung. kebiasaannya sepulang dari kantor itu di lakukan Galih bukan hanya untuk mengisi perut yang keroncongan tapi dipakai untuk melepas lelah.

"Panas sekali suasana hari ini." Ungkap Galih dengan sambil memacu kendaraan bermotor ya dia tumpangi.

Tibalah Galih di suatu warung langsung saja iya memesan makanannya.

"Mas pesan satu ya"ungkap Galih memesan makanan pada pelayan itu.

"Ya mas" jawab pelayan dg semangat.

"Ini mas makanannya"sambil tersenyum tersebut menghidangkan makanannya.

"Ya mas terimakasih"dengan senyum lebar iya menjawab pelayan tadi.

Sambil tersenyum pelayan itu menghidangkan makanan pesanan Galih. Sambil ngobrol ngobrol Galih pun menyantap makanan yg dihidangkannya.

"Sudah dapat pelanggan banyak mas, hari ini? Tanya Galih sambil tersenyum

"Mau dapat banyak atau sedikit, yg penting disyukuri aja mas"jawab pelayan toko dg senyum lebar.

Jawaban singkat itu membuat Galih terkejut karena selama ini hidupnya di kejar dengan target.

Hidup itu tidak selalu hanya uang, tapi bagaimana kita bersyukur menjalaninya. Galih merasa malu dengan dirinya sendiri ternyata seorang pelayan toko mensyukuri pendapatan yang dia peroleh sehari-hari. Sedangkan dia pekerja kantoran yg sudah terbiasa dg target. Kalau targetnya berhasil bonusnya besar.  Iya sibuk membuat target untuk dicapainya. Dia merasa cemas apabila tujuan berikutnya tidak tercapai.

Ternyata hidup tidak selalu memprioritaskan tentang uang tapi bagaimana bersyukur atas segala nikmat yang iya peroleh saat ini.

Seperti buku yang dibacanya karangan.    (A.R Shohibul Ulum, 2025) 

Kita telah menerima jutaan kali. lalu mengapa harus bersedih saat menerima musibah satu kali?

Jadilah orang yang pandai bersyukur.

Bersyukur dapat membebaskan diri dari belenggu kecemasan atas kesalahan.

Bersyukur dapat membuat kondisi yang di hadapi menjadi istimewa di hadapan Nya.

Bersyukur dapat memompa semangat untuk memberdayakan potensi yang diberikan oleh Nya.

Bersyukur dapat menyebarkan keimanan dengan benih iklas terhadap Qada dan Qadar Nya.

Jejak Oleh Goly Amin Priyono

 Di suatu sore tepat menunjukkan pukul 18.00 WIB. Galih seperti biasa pergi ke mushola dekat rumahnya. Gema adzan maghrib berkumandang, membuatnya cepat cepat menuju mushola.

Tanpa sadar dia melihat seseorang yang selama ini dia kenal. Sebut aja Pak Firman. Pak Firman adalah pimpinan Galih tempatnya bekerja. Dia selain pimpinan di sekolahnya juga seorang ulama besar di kotanya

Di saat yang bersamaan imam masjid yang memimpin shalat belum datang. Muaddzin tampak gusar dan bingung karena imam yg memimpinnya belum juga kelihatan batang hidungnya.

Tanpa basa basi karena sudah menunjukkan waktu shalat, Galih mencoba mengingatkan muadzin untuk secepatnya iqomah dan memerintahkan pak firman untuk menjadi imam. Namun pak Firman tidak mau katanya nanti nunggu lima menit lagi. Padahal Galih tau persis bahwa Pak Firman adalah ulama besar di kota asalnya. Dia yakin kalau hanya sekedar menjadi imam shalat itu hal mudah. Selesai shalat Galih berbincang dan menawarkan untuk mampir dan bercerita sambil nunggu waktu isya. Akhirnya pak Firman pun mau mengikuti ajakan Galih.

"Eh ternyata kamu rumahnya di sini  ya mas" tanya Pak Firman kepada Galih dengan tersenyum.

"Iya pak" jawab Galih dengan bercerita tentang kehidupan nya. Sambil tersenyum Pak Firman pun mendengarkan cerita Galih. Galih pun bercerita banyak hal yang terjadi dalam hidupnya.

"Dalam hidup itu penuh dengan ujian mas kita harus bersabar menghadapinya, saya yakin di balik itu semua ada hikmah yang terkandung didalamnya dan kalau kamu kuat menjalani nya insya Allah kamu akan dapat hadiah yang indah dari Nya."jawab Pak Firman menyampaikan wejangannya kepada Galih.

Galih pun dengan terkesima dengan jawaban Pak firman, dari peristiwa yang dia lihat akhirnya Galih bisa belajar dari Pak Firman bahwa dia itu ulama besar tapi tidak menunjukkannya keahliannya di depan jamaah shalat magrib, dan dia berbaur dengan jamaah yang lain. Dia menyadari bahwa dia adalah orang baru dan tidak mau menunjukkan keahliannya di situ.

Terkadang banyak orang yang baru tahu sedikit tentang agama, tapi berlagak bak seorang ustadz. Padahal dalam islam tidak boleh menyombongkan diri

Pak Firman juga mengajarkan tentang kehidupan bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita, pasti akan ada hikmahnya.

Dari peristiwa yang dia alami membuat Galih belajar jadi lebih dekat sama yang di atas, berusaha menerima apa yang telah di gariskan kepadanya dengan lapang dada dan juga jadi lebih dekat dengan kedua orang tuanya, berusaha memperbaiki hidup agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.




Sepasang Mata Bola Oleh Goly Amin Priyono



Malam itu tepat pukul 20.00 WIB, Galih sampai kota tujuannya Yogyakarta. Kereta api yang membawanya sampai juga di stasiun. Suasana yang ramai pada saat itu tepat bersamaan dengan libur nasional.

Selepas dari stasiun dia langsung menuju tempat favoritnya, di situ dia bertemu dengan adiknya yang bernama Revan.

Suasana kota yogyakarta yang kental dengan kekhasannya budaya dan seninya di tambah alunan suara musik bergema di tempat itu hingga membuatnya larut dalam kegembiraan. Sambil meminum secangkir kopi kesukaannya kami pun berbincang banyak tentang pengalamannya.

"Gimana kabarnya de"tanya Galih dengan santai
" Alhamdulillah mas kami sekeluarga sehat" jawab Revan dengan sedikit senyum.

Revan tinggal di Yogyakarta iya hidup dengan keluarga kecilnya, Revan bekerja di salah satu dinas di kota itu, hari-harinya di lalui dengan keluarga kecilnya itu.

Dia menceritakan keseharian bersama keluarga tercintanya. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Mereka pun akhirnya pulang ke rumah Revan. Sesampainya di rumah revan kondisi Galih sudah capai hingga akhirnya mereka pun tidur terlelap sampai pagi.

Keesokan harinya mereka ngobrol tentang keseharian keluarganya.

"Aku itu kalau pagi atau sore ngga mengharuskan masak mas? Celoteh Revan kepada Galih.
"Kenapa?" Tanya Galih dengan penuh keheranan
"Aku lebih mementingkan kebersamaan mas" jawab Revan dengan serius

Ternyata waktu untuk kebersamaan dengan keluarga kecilnya sangat terbatas. Dia pulang kerja sudah sore sedangkan kalau istrinya masak butuh waktu yang lama. Oleh karenanya dia siasati dengan makan di luar rumah dan waktu kebersamaan pun jadi lebih lama bercengkrama dengan keluarganya.

Galih pun serius mencermati apa yang di sampaikan Revan. Di situ kita bisa belajar bahwa waktu kebersamaan dengan keluarga kecil sangat di butuhkan untuk membangun komunikas dengan istrinya. Komunikasi yang baik akan tercipta dan meminimalisir masalah yang bisa terjadi sewaktu waktu.

Kebersamaan juga bisa di pakai tidak hanya lingkup keluarga tapi juga lingkup yang lebih luas lagi kaya tempat kerja, sekolah atau lingkungan tempat kita tinggal.

Terkadang masalah timbul karena kurangnya komunikasi yang dibangun, tapi berorientasi kepada ego kita tanpa memikirkan orang lain. Padahal ego kita belum tentu benar. 

Manusia juga terobsesi dengan pengakuan sehingga lebih mementingkan ego mereka. Manusia pengin terlihat pintar di mata manusia yang lain.

Dan pada dasarnya manusia di mata sang pencipta adalah sama dan sejatinya manusia hidup itu hanya mengikuti  dan menerima apa yang menjadi takdir Nya.



Takdir Oleh Goly Amin Priyono


Suasana tahun ajaran baru membuat ramai sekolah itu, tampak  orang tua wali  mengantarkan anak-anaknya. Hiruk pikuk siswa berdatangan dan Galih di tunjuk untuk memantau dan mengabsen satu persatu Galih memanggil siswa baru tersebut. Tampak satu siswa bernama adi tidak masuk.

"Ini kenapa Adi tidak berangkat"tanya Galih dengan penuh keheranan

"Tidak tahu pak, mungkin sakit pak" jawab salah satu siswa menjawab pertanyaan Galih.

Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah, tapi di kelas itu dia menjumpai satu anak tidak masuk. Hari demi hari dilaluinya.  Masa pengenalan siswa baru pun di mulai dan berlangsung tujuh hari namun sampai hari ketujuh Galih tetap tidak melihat Adi.

Galih pun kebingungan sampai hari terakhir masa pengenalan lingkungan sekolah tetep tidak melihat keberadaan Adi di tambah tidak adanya surat pemberitahuan dari orangtuanya. Akhirnya Galih pun mencari informasi melalui teman Adi yang bersekolah di situ.

Masa pengenalan lingkungan sekolah pun berlangsung dengan baik namun sampai hari terakhir, Galih tidak melihat batang hidung Adi dan  pada dasarnya masa pengenalan dipakai untuk lebih mengenal sekolah baru dan suasana baru.

Karena Adi tidak masuk tanpa keterangan akhirnya Galih berinisiatif untuk mengunjunginya. Galih dapat alamat dari blangko pendaftaran yang telah di kumpulkan pada masa pendaftaran.

Terik matahari siang itu menyinari aktivitas kami di sekolah itu. Galih dan bersama Guru BK tampak bergegas menuju tempat salah satu murid yg selama ini tidak masuk sekolah.

"Ayo pak kita berangkat ke tempatnya adi" sahut Galih terhadap temannya itu.

"Iya pak" sahut temannya itu. Dalam perjalanan menuju tempat adi mereka pun sambil berbincang ringan.

Sampailah iya di tempat yang dituju dan bertemu dengan bapaknya adi dan ternyata adi sudah tidak berangkat lama karena menderita sakit.

Galih pun dengan bijak mendengarkan cerita bapaknya adi. Ternyata adi selama ini tidak berangkat karena sakit yang dideritanya. Bapaknya bercerita bahwa dia  sangat terobsesi dengan mata pelajaran tertentu. Sampai bapaknya bercerita kalau dia tidak bisa mengerjakan sampai frustasi. Hal itulah yang membuat Adi sakit. Adi pernah mendapatkan perlakuan yang tidak enak dari teman-temannya, nilai sempurna yang dia peroleh pada mata pelajaran tertentu tidak serta merta membuat  temannya percaya hingga akhirnya dia pengin membuktikannya bahwa nilai sempurna yang dia peroleh karena usaha dia dari belajar. Hingga Adi pernah adu mulut dengan temannya tadi.

"Hai adi kamu dapat nilai sempurna karena nyontek ya" sahut teman teman adi dengan sedikit mengejek.

"Ngga ko, aku mendapatkan nilai sempurna karena hasil kerja kerasku" jawab Adi dengan sedikit marah.

"Aku akan buktikan ke kalian omonganku." Sahut adi dengan sedikit kesal.

Perasaan kesal dan marah menyelimuti hati Adi dan karena hal itulah yang membuatnya terobsesi dengan pelajaran itu hingga membuatnya sakit, apalagi kalau ada soal yang dia tidak bisa kerjakan pasti akan berusaha sekeras mungkin untuk memecahkannya.

Kami pun akhirnya mencari informasi tentang kebenaran hal itu.

Galih dan dan Guru BK mengunjungi SMP. Disitulah Galih menemukan fakta ternyata apa yang di sampaikan Bapaknya Adi memang benar adanya.

"Ya memang Adi itu anak rajin, dia selalu tanya kalau ada PR yang iya tidak kerjakan."sahut Guru mata pelajaran yang ada disitu.

"Bahkan kami memberi hadiah ke Adi karena nilai matematikanya sempurna."lanjut Guru mata pelajaran memberikan keterangan kepada kami.

"Namun memang ada anak yang tidak percaya dengan dia hasil yang di perolehnya." Lanjut Guru mata pelajaran tersebut.

Galih dan Guru BK mendengarkan dengan seksama penjelasan Guru SMP tadi. 

Setelah berbincang cukup lama dan menemukan data yang tepat  mereka pamit dan kembali ke sekolah. Bukti yang mereka dapat dasar untuk mengambil keputusan.

"Kami mohon ijin pamit ibu? Terimakasih atas penjelasannya. Penjelasan ibu jadi dasar kami untuk mengambil keputusan." Sahut Galih di iringi jabat tangan.

Sesampainya di sekolah kami berdiskusi dengan teman guru dan juga team yang menangani hal itu. Yang pada akhirnya sekolah mengambil keputusan agar Adi di beri kesempatan untuk menjalani pengobatan secara rutin terlebih dahulu sampai benar benar sembuh. Soalnya kalau di paksakan akan membahayakan kesehatan dia.

Pada dasarnya Galih kepengin Adi menikmati proses pembelajaran di sekolah itu namun kondisi sakit mengharuskan dia harus berobat dalam jangka waktu  lama.

Galih sadar bahwa takdir Allah memang terkadang tidak sesuai rencana manusia.

Galih bisa mengambil hikmah pelajaran yang dia dapatkan bahwa tidak semua rencana sesuai dengan jalan Allah sekaligus perlu mensyukuri setiap kejadian.

Galih menyarankan orang tua Adi untuk melakukan pengobatan secara rutin di rumah sakit.

 Kehidupan Adi di jalaninya dengan iklas, dia melakukan pengobatan secara rutin dan fokus pada kesembuhan dia. Pengobatan pun dilakukan. Lambat laun Adi kembali pulih dan saran dari dokter di jalankan dengan baik.

"Mas sekarang jangan terlalu terobsesi dengan apa yang kamu kejar, nanti kamu sendiri yang rugi" pesan dokter kepada Adi.

Adi sadar bahwa dengan  terobsesi dengan mata pelajaran tertentu belum tentu membuatnya sukses, malah justru membuatnya sakit dan mengabaikan mata pelajaran yang lain.

"Toh pada dasarnya kesuksesan tidak hanya dari mata pelajaran tersebut tetapi masih banyak faktor yang lain yang nantinya mendorong kamu jadi sukses" lanjut dokter yang menangani Adi dengan senyuman di bibirnya.

"Baik dok, InsyaAllah saya akan mengikuti saran dokter"jawab adi dengan penuh semangat.

Akhirnya Adi kembali sehat dan mengikuti sekolah dengan baik dan menjadi seseorang yang menjalani kehidupannya sesuai dengan kodratnya tanpa terobsesi dengan satu hal. 

Adi menatap hari-harinya dengan lebih tenang tanpa risau dari bully-an teman. Mau dapat nilai berapapun Adi terima dengan baik dan apabila tidak bisa mengerjakan tugas dia bisa belajar dari temannya sehingga tugas bisa diselesaikan dengan baik dan tentunya bisa menjaga kesehatan secara lebih baik lagi.










Jatidiri Oleh Goly Amin Priyono



Tepat pukul 04.30 WIB Galih bersiap untuk aktivitas seperti biasanya, dia bersiap berangkat ke tempat kerja menjalani rutinitas seperti biasanya. kehidupan Galih yang berantakan tidak membuat lemah dalam kehidupan. Galih mengalami cobaan hidup yang luar biasa dari kesehatan yang tidak baik, pekerjaan yang sangat melelahkan, belum lagi di tambah masalah keluarga yang pelik.

Namun ujian hidup itu tidak memupuskan semangatnya dalam menjalani kehidupan. Permasalahan yang bertubi-tubi dapat terselesaikan satu persatu dengan baik ini karena dorongan keluarga, teman membuat Galih seperti terlahir kembali. Dia seperti diberi kesempatan kedua kalinya untuk menjalani kehidupan secara lebih baik.

Hari-hari dilaluinya dengan kesabaran mencoba untuk menemukan hal baru yang mungkin selama ini belum dia dapatkan. Dia mencoba untuk lebih dekat dengan sang pencipta kehidupan.

Rutinitas malam dijalani dengan Istiqomah.

"Ah malam ini aku mencoba untuk shalat malam, mudah mudahan aku bisa bangun pukul 03.00 WIB pagi."ungkap Galih dalam hatinya sambil mengucapkan doa karena malam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Waktunya Galih untuk beristirahat dan siap siap menyetel alarm di Hpnya.

"Kring.......Kring....." Suara HP Galih berdering  sangat keras membuatnya kaget.

Bangunlah Galih dengan mata masih terkantuk-kantuk, Galih pun keluar kamar dengan mengambil air wudhu dan bersiap untuk melaksanakan shalat malam dengan sangat khusu.

Dalam hati Galih berdoa agar semua yang di lalui bisa selesai dan menemukan ketenangan hatinya. Karena selama ini kecemasan dan kekhawatiran selalu menghantui,tapi dia percaya ada Allah yang mendampinginya.

Rutinitas Galih pun di lakukan dengan istiqomah, lambat laun ketenangan hati Galih mulai muncul dan yang membuat Galih tambah semangat menjalani itu semua. Setiap bangun pagi rasanya badan jauh lebih ringan badannya lebih enak tidak seperti biasanya.

Galih pun menjalani aktivitas di pagi hari, dia terkadang mewajibkan untuk sekedar jalan walaupun hanya 30 menit untuk menjaga kebugaran.

Kehidupan Galih sudah mulai tertata dengan baik, perasaan marah, kecewa Galih kepada orang orang yang selama ini menyepelekan mulai pudar dan hilang.  Dia tidak merasa kecewa dan khawatir dengan kehidupan yang dijalaninya. 

Kehidupan di jalani dengan bahagia. Dia hanya memikirkan kehidupan saat ini. Walaupun pada dasarnya manusia punya rencana tapi hasil Allah  yang menentukan. Prinsip itulah yang di terapkan dalam kehidupan Galih, sehingga hidupnya jauh lebih tenang.

Galih mencoba mengambil sisi positif dari setiap kejadian dan membuang jauh-jauh rasa marahnya terhadap orang yang selama ini menyepelekan dan menganggap Galih orang yang lemah yang tidak bisa apa apa bahkan setiap iya teringat akan hal itu, iya hanya tersenyum.

Perjalanan mencari jatidiri berlanjut, dia tidak hanya bekal  ilmu agama saja tapi bagaimana dia bersikap kepada orang lain, memperbaiki shalat dan berusaha mengerti garis besar setiap bacaan shalat, dia juga membeli buku buku tentang prinsip prinsip kehidupan karena selama ini dia anggap gagal dalam kehidupan.

Pagi yang syahdu, rintik rintik hujan di tambah secangkir kopi menambah kehangatan suasana kala itu. Hari itu adalah hari libur di manfaatkan Galih sekedar untuk melepas penat setelah lima hari kerja.

 Sambil meminum kopi Galih membuka Hp. Galih melihat adiknya sedang membaca buku. Tanpa basa-basi Galih langsung menanyakan buku apa yang adiknya baca.

"Lagi baca buku apaan de" tanya Galih dengan sangat penasaran.

"Cerpen mas, ini bagus mas isinya sesuai dengan kehidupan, bagus juga buat bacaan, siapa tau saya bisa ngambil sisi positif dari cerita ini"timpal adiknya itu menjawab pertanyaan Galih

"Mas mau?besok aku kirim mas, kayanya pas buat mas" tanya adiknya kepada Galih.

"Hitung hitung ini hadiah dari aku mas" sahut adiknya kepada Galih.

Adik Galih sebut saja Robert. Robert merupakan adik yang baik, dia tau betul kehidupan Galih. 

Kehidupan Robert dijalani dengan keluarga kecilnya. Walaupun rumahnya jauh  dari rumah Galih, komunikasi keduanya terus berlangsung. Dia sangat peduli dengan kondisi kakaknya.

Sesampainya buku di tangan Galih ternyata Galih terkejut ternyata kejadian yang di alaminya ada di buku itu. Galih baca tiap lembar hingga dia bisa mengambil pelajaran bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini itu mengikuti takdir Allah

Bahwa segala kejadian apapun kalau memberi makna negatif kita akan marah dan putus asa namun jika kita memberi makna positif akan lebih sabar tekun dan tidak menyerah. Saat emosi datang bagaimana kita  bersikap mengendalikan emosi kita dan berfikir secara rasional.

Setelah membaca buku itu Galih mencoba menerapkan dalam kehidupan. Hidup Galih semakin berwarna. 

Galih melanjutkan aktivitasnya dan bermaksud ke tempat saudara yang jauh di kota. Di tengah perjalanan Galih pun beristirahat untuk sekedar melepas lelah.

Lalu-lalang kendaraan bermotor menambah suasana di tempat itu menjadi lebih panas, memang saat itu matahari  sedang menampakan cahayanya.

Mata Galih tertuju pada seorang paruh baya, kulitnya yang keriput dan kelopak matanya yang dalam dan tubuhnya yang tidak lagi kuat menahan terik matahari, membuat Galih merasa iba, dia adalah tukang parkir yang bekerja di komplek itu. Galih pun menghampirinya dan membelikan sebotol minuman.

"Minum dulu pak, ini ada sebotol air untuk mengurangi dahaga."timpal Galih menghampiri bapak-bapak paruh baya itu.

"Makasih mas, mau kemana?"tanya bapak itu sambil meminum air yg diberikan Galih.

"Mau ketempat saudara pak" jawab Galih dengan penuh senyum.

"Panas sekali ya mas suasana hari ini."timpal bapak tadi kepada Galih.

" Ya pak, bapak tiap hari kerja kaya gini dapat berapa?"

"Mau dapat berapapun yang penting di syukuri mas"timpal bapak tadi menjawab pertanyaan Galih.

"Sekarang namanya orang hidup, yang penting istri dan anak sehat, bisa makan dan kuliah."

"Banyak kan mas orang kaya tapi di uji dengan kesehatan yang tidak baik, tidak bisa menyekolahkan anak karena anaknya terkena narkoba tapi ada banyak pengemis yang hidupnya tenang, tanpa sakit dan bisa menyekolahkan  bahkan sampai perguruan tinggi."jawab bapak tadi dengan senyum."

"Yang penting tah kita menjalani sesuai dengan rencana Nya." Timpal bapak itu dengan penuh keyakinan

Obrolan singkat tadi mengakhiri pembicaraan Galih dengan bapak tadi.

"Dah dulu ya pak saya akan melanjutkan perjalanan."sahut Galih  mengakhiri obrolan tadi. 

"Ya makasih mas minumannya" ucapan bapak itu kepada Galih.

"Sama-sama pak"jawab Galih diiringi senyum.

Galih melanjutkan perjalanan sambil berfikir dalam renungan karena merasa terkesan dengan jawaban bapak tadi.

Penghasilan pas-pasan bahkan kurang, tapi masih mau memikirkan anaknya untuk mengenyam pendidikan lebih bagus.

Sesampainya di tempat saudara, Galih bercerita kepada saudara tentang apa yang di alaminya.

Hari demi hari dilalui, tapi entah kenapa setiap ketemu orang lain selalu dalam obrolannya pasti tersirat hal yang sama tentang pentingnya bersyukur dan menikmati hidup.

"Apa ini orang-orang pilihan Allah ya, mengapa mereka mengatakan hal yang sama kepadaku."ungkap Galih dalam benaknya sambil meminum secangkir kopi hitam kesukaan nya.

"Mungkin ini cara Allah membimbingku."pungkas Galih dengan penuh semangat.

Galih selalu bertemu dengan orang orang yang kalau dilihat secara ekonomi tidak mampu tapi rasa bersyukur orang tersebut sangat luar biasa. Orang orang tersebut menerima segala hal dengan lapang dada, hidup selaras dengan alam. Hal ini yang membuat orang tersebut hidup tenang dan menjadikan anak-anaknya menjadi orang sukses.











Pelita Oleh Goly Amin Priyono

Kehidupan Galih semakin hari semakin menyala seperti obor ditengah kegelapan, perjalanan mencari jatidiri terus berlanjut.

 Waktu itu sepulang dari kerja iya mengobrol dengan temannya.

"Mas suka nulis ngga"ungkap teman dengan sedikit bergurau.

"Sedikit sedikit mas, dulu aku pernah nulis, tapi bantu temen untuk lomba" jawab Galih dengan sedikit senyum.

"Oh bagus tuh kembangkan mas" bisa jadi obat lho?pungkas temannya dengan serius.

"Obat?......."ungkap Galih sambil berfikir apa yang disampaikan temannya.

Galih karena penasaran dengan jawaban temannya itu akhirnya mencari tau, ternyata menulis itu bisa sebagi  self healing.

Self healing itu semacam terapi bagi mengurangi stress yang di kepala akibat mengalami masalah yang besar. Dengan menulis bisa mencurahkan segala isi hatinya tanpa menyinggung orang lain.

Galih akhirnya terinspirasi untuk menulis lagi karena hobi menulis yang dia tekuni sempat hilang akibat banyaknya pekerjaan dan masalah yang muncul.

Hari demi hari Galih menjalani rutinitas menulis. Hal ini untuk mengurangi beban yang menumpuk, bagai gunung yang menjulang tinggi yang dengan segala keindahannya namun menyimpan sebuah misteri yang suatu waktu bisa meletus.

Begitu pun dengan masalah Galih, masalah yang kadang muncul namun kalau tidak dikelola dengan baik akan berakibat fatal bagi karir dan kesehatannya. 

Sore hari dimana awan tak nampak menunjukkan keceriaannya, dan rintik hujan yang mulai membasahi bumi pertiwi menambah suasana sore semakin syahdu.

Sepulang dari kerja, atau disaat senggang ya memegang Hpnya untuk menulis segala hal yang iya alami. Hari hari dia semakin produktif, beban yang selama ini ruwet seperti tali yang terikat sangat kencang perlahan mulai terurai.

Suasana sore yang syahdu membuat perut Galih lapar, pas kebetulan didepan rumah lewat tukang bakso.

"ting.....ting...." Bakso ....Baksoooo..." Suara tukang bakso membunyikan mangkoknya.

"Bang pesen satu" sahut Galih kepada tukang bakso.

"Baik mas". Jawab tukang bakso dengan penuh semangat.

"Ini mas baksonya" timpal tukang bakso kepada Galih.

"Baik  bang terimakasih"ini uangnya bang"

Sambil memakan bakso yang dibelinya tadi, tanpa sadar ketika iya membuka media sosial Galih pun melihat pemberitahuan tentang lomba menulis cerpen. Setelah makan bakso sampai habis Galih kemudian membacanya dengan cermat ketentuannya dan persyaratannya.

"Wah ini ada lomba menulis cerpen tapi....."

"Ini lomba tingkat internasional" apakah saya mampu ya?" ungkap Galih dalam hatinya.

Galih sadar kemampuan menulisnya baru sebatas menyalurkan hobi dan menyalurkan bakat sekaligus mengurangi beban yang sedang dijalaninya.

Hari demi hari Galih selalu kepikiran akan lomba itu, hingga iya bertemu dengan teman baiknya dan menceritakan tentang lomba tersebut. Temannya menyarankan untuk mengikuti lomba itu dan disaat bersamaan iya juga melihat status teman yang lain nge-share anak didiknya yang menjadi juara 1 lomba menulis cerpen tingkat SMA.

Galih pun akhirnya memantapkan hatinya untuk mengikuti lomba tersebut sambil mencari informasi tentang anak didik tersebut untuk sekedar sharing tentang cerpen. Arahnya sangat membantu Galih dalam membuat cerpen.

Akhirnya sebuah cerpen tersaji dan Galih pun akhirnya mengikuti lomba tersebut. Prinsip Galih pada dasarnya sangat sederhana iya hanya ingin menyalurkan hobi yang sempat hilang soal menang atau kalah itu baginya bonus dari sang pencipta.

Dan Allah itu maha baik. Kalau kita mengikuti skenario Allah akan hadirkan sesuai keinginan kita. Kebutuhan Galih terpenuhi dengan baik.

Disaat Galih butuh teman untuk ngobrol untuk mencurahkan isi hatinya. Allah hadirkan seseorang untuk sekedar mengingatkannya untuk menulis. 

Dan di tengah kebimbangan Galih untuk mengikuti lomba, Allah hadirkan seseorang yang bisa mensupport dan membimbingnya.

Dan disaat Galih tidak mengharapkan menjadi terbaik dalam lomba, Allah memberinya anugerah sebagai juara cerpen terbaik tingkat internasional.







Ajaibnya Doa Oleh Goly Amin Priyono

Rintik rintik hujan menemani perjalanan kami sore hari, Galih beserta ibunya pergi ko kota sekedar melepaskan hanya melepaskan penat karena hampir satu minggu Galih melakukan aktivitas yang melelahkan. Sesampainya di kota suasananya sangat ramai, lalu lintas padat merayap membuat Galih berjibaku dengan kemacetan.

"Ramai sekali ya bu hari ini?"membuka obrolan sampai melepas kepenatan karena kemacetan.

"Ya hati-hati fokus aja kamu nyetir" ungkap ibu Galih. Galih pun fokus dengan setir di tangannya.

Suasana kota yang ramai, hiruk pikuk masyarakat berduyun-duyun untuk melihat hiburan. Memang pada malam itu ada festival kethongan. Festival kethongan bagian dari upaya pemerintah untuk melestarikan budaya di kota itu.

"Oh ternyata ada kenthongan bu" ungkap Galih sambil fokus.
"Ya yah, nanti kita mampir dulu aja lagian jalanan macet mending mampir dulu.

Akhirnya Galih berhenti sambil memarkir kendaraannya. Lalu dia berjalan ke suatu arah tapi tampak heran kenapa warung ini jarang pembelinya.

Dihampirinya penjual warung dan memesan sebuah kopi. 

"Pak pesen kopinya satu ya" ungkap Galih dengan senyum
"Baik mas" dibuatkan kopi itu oleh pelayan
"Ini mas kopinya"sahut penjual tadi
"Makasih pak" jawab Galih

Sambil meminum secangkir kopi Galih pun bertanya kepada penjual warung tadi.

"Pak Gimana hari ini dah banyak yang beli" tanya Galih kepada penjual tersebut.
"Belum ada mas?". Jawab penjual itu 

Galih pun tampak heran mengapa warung ini begitu sepi padahal penonton  di samping kanan dan kirinya sangat banyak, sementara disisi yang lain di sebrang jalan tampak pengunjung membeli beberapa barang dagangan yang di jajakannya. Sambil meminum kopi dan dalam hati Galih berdoa kepada sang pemberi kenikmatan agar warung ini ramai.

 Ibu Galih yang berada di samping Galih tampak sangat fokus dengan pertunjukan yang di gelar.

Suasana malam itu begitu ramai dan sesekali memandang pertunjukan yang sedang di gelar. Hiruk pikuk penonton dan lalu-lalang penjual asongan menjajakan jajanannya.

Satu persatu peserta kenthongan berdatangan. Hingga tibalah pada satu regu peserta festival kenthongan dan satu rombongan tadi berhenti tepat di depan Galih dan penjual kopi tadi.

Salah satu peserta festival kenthongan berhenti karena ada salah satu personelnya meminta minum dan kebetulan persediaan minumannya habis, karena melihat warung yang menjual minuman maka  mereka berhenti di warung tersebut.

"Pak ada air mineral"ungkap salah satu peserta di regu tersebut.
"Ada mas, mau berapa? Tanya pelayan tadi "Ini semua nya aja, kebetulan kami tadi kehabisan minum di jalan. Sekalian untuk persiapan aja pak." Jawab salah satu peserta tadi.
Sambil tangan bergetar penjual tadi mengantarkan seluruh botol mineral tadi kepada salah satu official.

Tampak air mata kebahagiaan, keluar dari penjual tadi. Galih dan ibunya tampak tersenyum melihat kejadian itu dan bersyukur karena akhirnya penjual itu bisa menjual minuman sampai tak tersisa.

Akhirnya Galih dan ibunya pamit ke penjual tadi karena hari mulai larut malam. 

"Makasih mas, sudah membantu saya" ungkap pembeli tadi.
"Membantu apa pak? Ungkap Galih kepada penjual tadi.
"Saya kan hanya beli secangkir kopi"timpal Galih itu dengan senyum. 
"Berterimakasih pada Allah pak, dialah sang pemberi segala kenikmatan dan keberkahan."ungkap ibu menegaskan kepada penjual tadi.

Penjual tadi sadar bahwa apa yang telah di ucapkan nya salah. Akhirnya beristighfar kepada Allah. Nampaknya penjual tadi meyakini bahwa dengan kedatangan Galih dan ibunya membuat dagangannya habis. Karena pernah mendengar satu kajian bahwa orang ahli ibadah dan ahli tahajud itu mendatangkan keberkahan. Pedagang itu meyakini bahwa Galih ibunya ahli tahajud karena sebelum Galih datang suasana di warung tersebut sangat sepi, padahal saat itu  suasana sangat  ramai tapi dagangnya tidak ada yang beli. 

Akhirnya Galih dan ibunya melanjutkan perjalanan. 

Dari kejadian itu Galih sadar masih banyak orang salah dalam memaknai sebuah pendapat bahwa ahli ibadah atau ahli tahajud pasti mendatangkan keberkahan.

Padahal walaupun ahli ibadah kalau perlakuan ke orang lain belum bisa baik, sedekah tidak pernah dan bersosialisasi masih kurang maka ibadah sia sia.

Ahli ibadah itu orang menjalankan prinsip kehidupan secara baik, menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, melaksanakan wajib dan sunahnya, bersedekah, bersosialisasi dengan masyarakat dan peduli kepada masyarakat dan iklas menjalankan apa yang menjadi ketentuan apakah itu baik atau buruk. 






 




















Petualangan Oleh Goly Amin Priyono

Pagi itu tepat pukul 06.45 WIB Galih sudah bersiap untuk mengikuti upacara bendera. Suasana pagi itu tampak cerah, membuat upacara berlangsung dengan khidmat.

Pembina upacara pada saat itu menyampaikan arahan tentang pentingnya tentang kesadaran dan tanggung jawab sebagai siswa. Ini sebagai bekal agar nantinya mereka bisa bertanggung jawab terhadap segala hal di dalam kehidupan.

Setelah selesai upacara Galih berbincang di sudut sekolah yang tampak hijau dengan tanaman di sekelilingnya dengan salah satu teman guru.

"Pak tadi sambutannya ngena banget ya?"tanya Galih kepada temannya itu.

"Maksudnya?" Ungkap temannya kepada Galih.

"Gini terkadang manusia hanya mengejar dunia saja, terkadang kita lalai dengan tanggung jawab kita. Dunia yang selalu kita kejar  padahal kehidupan sesungguhnya di akhirat lebih lama." jawab Galih dengan serius.

"Jangan sok alim kamu."gurau temannya kepada Galih.

"Bukannya sok alim, yang kita kejar sekarang apa coba"jabatan, kekayaan, uang dll kan? ungkap Galih dengan nada serius.

"Ya memang sie, memang manusia tidak ada cukupnya. Terkadang kita terlalu fokus dengan apa yang kita inginkan sampai lupa bahwa semua itu milik Allah."ungkap teman Galih dengan sedikit senyum.

"Kekayaan, jabatan, bahkan pasangan hidup itu takdir Allah dan kalau kita lupa kebesarannya semuanya akan musnah"

"Manusia boleh berencana dan berusaha tapi hasil itu hak prerogatif Allah."timpal teman Galih dengan senyum.

Galih merenung dengan kata kata temannya tadi, Galih sudah merasakan semuanya. Karir,jabatan, kekayaan yang Galih bangun selama ini hampir hilang bak ditelan bumi.

"Ngelamun aja kamu, diajak bicara malah ngelamun" ungkap teman Galih dengan agak kecewa.

"Ya yah, aku lagi berfikir dengan hidup yang aku alami."jawab Galih dengan memandang temannya itu.

"Jangan dipikir, dijalani aja, toh nantinya pasti kamu akan menemukan hikmah yang dari setiap kejadian."timpal teman Galih dengan memberikan sedikit perhatian biar Galih semangat menjalani hidup.

Galih sadar bahwa selama ini iya hanya memikirkan dunia saja, Galih pun bertekad untuk mengikuti apa yang menjadi ketentuan Nya. Seperti air yang mengalir menyusuri lembah yang curam. Namun akan berhenti di muara sungai yang di sekelilingnya tumbuh tanaman yang sangat hijau dan lebat.

Begitu juga dengan perjalanan hidup yang Galih alami, lika-liku kehidupan membawanya pada kesadaran bahwa kesuksesan akan terbentuk dari jiwa yang kuat dan pasrah terhadap takdir Nya. 

Dia tidak akan mengejar apa yang menjadi mimpi dan cita-cita nya tapi akan mengikuti alur  dan proses nya yang penting usaha dan doa.

Perbincangan mereka pun terhenti karena bel masuk berbunyi.

"Eh ayo masuk itu sudah bel." Timpal Galih mengakhiri obrolan mereka.

Galih dan temannya akhirnya menuju kelas. Sesampainya di kelas Galih menyampaikan pembelajaran dengan agak nyantai tentang pengelolaan sumber daya alam hingga akhirnya ada anak yang bertanya.

"Pak bagaimana cara kita agar kita bisa menikmati segala kekayaan alam yang ada di Indonesia dengan baik, sementara masih sering terlihat kerakusan manusia membuat kita lalai dalam memanfaatkannya."tanya seorang siswa dengan penuh serius.

"Gini mas kamu tahu mengapa Allah menurunkan  hujan?' Hujan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan seluruh isi alam yang ada disitu."jawab Galih dengan serius.

Galih mencontohkan kejadian yang relevan dengan kehidupan bahwa hujan akan tetep terjadi karena Allah tahu bahwa hujan dibutuhkan seluruh alam untuk kehidupan. Walaupun hujan  terkadang membuat orang jadi malas berangkat kerja atau melakukan aktivitas. 

Bintang  juga akan tetep bersinar walaupun sinarnya akan kalah dengan bulan dan matahari, karena Allah tahu dibelahan bumi yang lain masih malam sehingga sinarnya akan terlihat indah.

Begitu pun kodrat manusia yang pada dasarnya manusia harus mencontoh alam, bagaimana manusia harus berbuat baik kepada alam atau kepada manusia yang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. 



Berbuat baiklah kepada manusia dan alam tanpa mengharapkan imbalan apapun dan jadikan semua itu sebagai ladang ibadah untuk mengharap rido Allah.

Terkadang mereka melakukan sesuatu hanya sekedar untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, ingin terlihat pintar, ingin terlihat peduli dan ingin terlihat kaya. Mereka halalkan segala cara untuk mendapatkan itu yang pada akhirnya  mereka puas karena apa yang diinginkan tercapai. Namun mereka lupa bahwa pujian  kalau tidak di kelola dengan baik bisa jadi gerbang awal kehancuran manusia dan dikala tidak siap dengan ujian yang datang dengan tiba-tiba, Allah  mencabut kenikmatan semua itu, kehidupan mereka pun jadi hancur.

Begitu pun juga dalam memanfaatkan alam jangan sampai berlebihan yang nantinya akan merusak alam dan menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri.

Sejatinya kebutuhan manusia pada dasarnya sudah ada di dalam diri manusia tinggal memanfaatkan dan mengenali potensi yang dimilikinya.

Berkaca dari situ kita akan sadar bahwa sejatinya manusia punya potensi yang kuat untuk menjadikan seseorang menjadi kaya dan pintar dan semua akan tercukupi tanpa harus ada pengakuan dan pujian dari orang lain. Mereka akan melihat dengan sendirinya apa yang sudah dilakukannya.

Tinggal bagaimana kita menjalani dan mengenalinya diri kita secara baik. Sehingga potensi akan bisa dimanfaatkan dengan baik tidak hanya untuk pribadi tapi juga bisa untuk orang banyak.

Anak tersebut terkesima dengan jawaban Galih. Karena jam pembelajaran telah berakhir Galih pun menutup pembelajaran di kelas itu slogan.

"Hasil yang baik, dibentuk dari tauladan yang baik"

Dan tepuk tangan pun bergemuruh. Membuat suasana hari itu pun cukup ceria









Cerminku Oleh Goly Amin Priyono

Sore hari sepulang kerja Galih dan temannya menuju tempat servis komputer yang berada di kota. Suasana yang hujan diliputi angin membuat suasana tampak syahdu.

Perjalanan kami pun di selingi dengan obrolan ringan. Galih bercerita bahwa hari kemarin mantap sekali. Aktivitas yang full dan juga penuh ujian membuat Galih harus lebih bersabar dan fokus terhadap suatu hal.

"Lagi mikirin apa si mas ko laptop sampai hancur begitu" tanya teman Galih sambil bergurau.

"Ah ngga mikirin apa-apa" ungkap Galih membalas temannya tadi.

"Lg disuruh belajar bersabar" tahu ngga hari ini aku banyak hal yang ngga ngerti dari bangun kesiangan, berangkat ke tempat kerja telat, belum lagi laptopku hancur lebur karena jatuh."timpal Galih dengan nada serius.

"Ngga usah dipikir"jawab teman Galih dengan tersenyum.

" Ngga dipikir sie cuma aneh aja dengan hari ini."timpal Galih dengan nada sedikit agak kesal.

"Lah itu berarti kamu memikirkannya."jawab teman Galih sambil bergurau.

"Tetap semangat ya"timpal teman Galih menyemangati nya.

Akhirnya temannya bercerita bahwa setiap kejadian pasti akan ada hikmah nya. Walaupun kita sudah merencanakan serapi mungkin tapi kalau Allah berkehendak lain ya kita harus mengikutinya dan mengikhlaskannya dan jangan sekali-kali mengeluh karena keadaan.

"Keluhan mu menunjukkan kelemahan mu."timpal teman Galih di sela-sela obrolan.

"Kamu harus tetap tersenyum biarkan kejadian hari ini jadikan jadi pelajaran buat mu dan aktivitas kamu yang tinggi hari  ini dan peluh keringat mu menjadi saksi dihadapan Illahi Rabbi."ungkap teman Galih memotivasinya.

Temannya pun bercerita kepada Galih

 "Aku tuh pernah baca tulisan seorang teman bahwa turunnya hujan bersama derasnya turun pula berkah dan kasih sayang langit kepada bumi dan seisinya. Begitu dengan manusia selalu diuji pasti punya tujuan dan maksud tersendiri."

"Pasti dibalik ujian yang kamu lalui hari ini akan banyak hal yang lebih bermanfaat."

"Bermanfaat gimana"tanya Galih dengan penuh keheranan."

"Hari ini kamu kan aktivitas tinggi, pasti dong bermanfaat bagi orang lain."jawab teman Galih meyakinkan apa yang dia katakan.

"Lalu kamu bangun telat, datang terlambat ke kantor, pasti akan ada manfaatnya jadi kamu prepare lebih awal untuk menyiapkan segala hal itu."

"Lalu kalau laptop yang rusak juga ada manfaatnya."ungkap temannya menjelaskan.

"Kalau laptop yang rusak kamu bisa beli yang baru"ungkap teman Galih sambil tertawa.

Obrolan mereka pun akhirnya membuat suasana semakin hangat. 

Galih pun mendengarkannya dengan seksama apa yang di sampaikan temannya itu  sambil tetep fokus pada setir mobilnya karena hujan semakin deras. 

Mobil yang mereka tumpangi pun terhenti karena mereka telah sampai di tempat yang dituju. Galih pun masuk dan menyelesaikan urusannya tersebut dan berterima kasih kepada temannya karena hari itu iya dapat pelajaran yang berharga.

Bahwa setiap kejadian pasti akan ada manfaatnya, setiap kejadian jadi pengingat untuk lebih instrospeksi diri. Karena manusia pada dasarnya tidak ada yang sempurna, tinggal bagaimana kita memperbaiki kekurangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Mutiara yang Terlupakan Oleh Goly Amin Priyono

 "Dalam muara keindahan lekuk bulan sabit yang merekah. Bagaimanakah ku percaya bahwa semalam suntuk pipimu tak pernah basah. Kerap ku lihat kedua mata cekung mu terlelap diatas bantalan kapuk. Meringkuk bersama setumpuk yang senantiasa kau peluk." Begitu sekelumit puisi milik Damara.

Galih terkesima dengan puisi yang ditulis oleh seorang siswanya. Tanpa sadar mata Galih pun meneteskan air mata, iya teringat perjuangan ibunya dalam membesarkan anak-anaknya. Galih besar dan hidup dalam kesederhanaan. Doa-doa yang ibunya panjatkan setiap malam, belum juga membuahkan apa yang di inginkan. Sambil mengusap kedua bola matanya Galih pun terdiam tidak melanjutkan mengoreksi puisi yang lain.

Dalam renungannya Galih pengin sekali mewujudkan keinginan kedua orang tuanya.

"Kapan yah aku mewujudkan semua mimpi- mimpiku untuk membahagiakan kedua orang tuaku" benak Galih  yang diliputi rasa kalutnya.

"Ah lakukan yang kau bisa dan mampu, insya Allah sang pencipta akan membantuku." Timpal Galih menyemangati diri sendiri.

Galih kemudian melanjutkan koreksinya karena memang dia sedang di beri tugas untuk membantu mengoreksi puisi siswa yang akan ikut lomba tingkat Jawa Tengah.

Kehidupan Galih yang berantakan, membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah.

Dia menyusun ulang semua rencana dari awal. Mencoba hal baru yang selama ini belum iya lakukan.

Hari-hari Galih semakin membaik, hingga akhirnya iya menemukan suatu titik yang selama ini iya cari.

Sekarang dia fokus dan tenang pada apa yang dia rencanakan dan setiap menghadapi masalah iya berusaha untuk mencari solusi nya.

Iya juga mengontrol emosinya yang menggebu, jangan sampai emosi yang datang meluluh lantakkan semua rencananya dan mengontrol kecemasan yang ada dalam dirinya.

Galih tumbuh jadi orang dengan kepribadian yang baru. Galih pasrah dengan semua yang terjadi dan berserah diri kepada Allah.

Galih akhirnya mewujudkan mimpi ibunya.  Ibu Galih kepengin anaknya hidup bahagia.

Kehidupan Galih semakin baik. Dia juga berusaha membahagiakan kedua orang tua nya.

Setiap Galih libur kerja Galih mengajak kedua orang tuanya untuk berlibur sekaligus melepaskan penat.

Suasana sore itu sangat cerah matahari yang beranjak meninggalkan awan,  tepat pukul 16.00 WIB sepulang kerja dari kantor Galih duduk-duduk dengan kedua orang tuanya sambil berbincang-bincang ringan.

"Ayo pak, bu kita berlibur" tanya Galih kepada kedua orang tuanya.

"Kemana?" Tanya ibunya kepada Galih dengan menikmati suasana sore yang cerah.

"Ya kemana yang ibu mau?" jawab Galih sambil meminum kopi kesukaan buatan ibunya.

"Ngga usah lah, nikmati aja liburanmu." Seminggu ini kamu kerja full."jawab ibunya dengan sedikit senyum.

"Ibu itu seperti itu, setiap diajak pasti ngga mau."ungkap Galih dengan sedikit kecewa.

Melihat sikap Galih yang sedikit kecewa dengan jawabannya, ibunya kemudian mengiyakan apa yang iya minta.

"Ya udah ibu pengin ke Bandung, sambil ke rumah adikmu." jawab ibunya dengan sedikit senyum di bibirnya.

"Ayo bu besok berangkat ya, sekaliyan Galih pengin mengajak bapak sama ibu mengunjungi tempat wisata yang ada di sana." jawab Galih dengan penuh semangat.

Galih memang selama ini hampir tidak pernah membahagiakan kedua orang tuanya. Kesibukan Galih di kantor membuat nya lalai membahagiakan kedua orang tuanya.

Galih sadar bahwa selama ini yang iya lakukan hanya mengejar impiannya tapi lupa membahagiakan kedua orang tuanya.

Padahal iya bisa bekerja itu juga karena kedua orang tuanya. Kejadian yang menimpa dirinya membuat matanya terbuka. Apa yang selama ini iya peroleh, pekerjaan, rejeki iya dapatkan belum sepenuhnya membahagiakan kedua orang tuanya. Galih sadar bahwa bakti anak kepada kedua orang tuanya menjadi tanggung jawabnya dan kebahagiaan kedua orang tuanya menjadi hal mutlak yang Iya harus lakukan.

Selama ini iya hanya fokus pada apa yang iya rencanakan, tapi masih menghadapi kendala dalam mencapainya. Akhirnya Galih berusaha menyusun ulang semua rencananya sambil membahagiakan kedua orang tuanya dan kehidupan Galih semakin lebih baik. Semua apa yang di rencanakan terwujud. Kedua orang tuanya pun bahagia melihat anaknya sukses dan bahagia.

Restu orang tua adalah restu Allah dan kebahagiaan Orang tua merupakan kebahagiaan Allah.






FOKUS YANG KAMU KERJAKAN Oleh Goly Amin Priyono

 Siang itu cuaca tampak cerah membuat suasana cukup panas. Ratih adalah seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah harapa...