Suasana sore itu tampak cerah seperti biasanya Raka duduk di teras depan rumahnya menatap langit yang sore itu begitu indah. Dalam hatinya dia termenung apakah dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang yang sukses dan menempuh pendidikan yang tinggi. Di bidang akademik Raka tergolong biasa saja dan bukan termasuk orang yang pintar di kelasnya, namun keinginannya dan tekad begitu kuat.
Sekolah yang dia tempuh sekarang mengharuskan Raka tinggal sendiri di kota dan jauh dari orangtuanya. Suatu hari orang tua Raka menelponnya, hal itulah kesempatan Raka untuk bercerita tentang keinginannya melanjutkan pendidikan ke universitas yang dia inginkan. Kedua orang tua Raka bukan orang berpendidikan, mereka bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak tetap. Raka sangat menyadari bahwa keinginannya pasti membuat orangtuanya resah namun tekadnya sangat kuat, Dia berpendapat kalau dia memiliki pendidikan yang tinggi dia dapat mewujudkan cita-citanya sekaligus bisa mengangkat ekonomi keluarganya. Mereka bercerita melalui telepon.
“Assalamualaikum nak, gimana kabarmu? kamu sehat?” tanya ayahnya dengan penuh rasa sayang.“
Alhamdulilah yah, Raka sehat”. Gimana kabar ayah sehat juga kan.” jawab raka sembari menanyakan kabar ayahnya.
“Alhamdulillah nak.” jawab ayahnya menjawab pertanyaan Raka.
“Gimana dengan sekolahmu” tanya ayahnya menanyakan perkembangan sekolahnya.
Akhirnya Raka menceritakan perkembangan sekolahnya.
“Alhamdulillah sekolah Raka lancar.” oh ya yah bulan depan Raka mau ujian doakan ya yah biar Raka nilainya bagus, karena ini penentuan kelulusan Raka setelah menempuh pendidikan di SMA.” Jawab Raka dengan penuh semangat.
“Ya nak pasti ayah doakan yang terbaik buat kamu.” Jawab ayahnya kepada Raka.
Pembicaraan mereka berlanjut dengan sangat hangat, karena memang sudah lama Ayahnya tidak meneleponya. Raka kembali mengutarakan niatnya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Gini yah, Raka pengin bercerita, besok Raka sudah selesai sekolah, keinginan Raka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.” ungkap Raka kepada ayahnya.
“Tapi?.....”
“Tapi kenapa nak?” Tanya ayahnya dengan rasa penasaran.
“Ayah pasti keberatan kan!” ungkap Raka kepada ayahnya.
“Ayah ngga keberatan nak.” fokus aja dengan apa yang kamu hadapi sekarang, mengenai kuliah pasti ada jalan dan mengenai biaya pasti ayah akan usahakan dan jangan lupa selalu berdoa” Jawab ayah Raka dengan penuh bijak.
“Pesan ayah hanya satu, shalat tepat waktu nak karena sebagai pondasi dasar kamu untuk meraih apa yang kamu inginkan. Kamu tau pohon yang menjulang tinggi dan besar pasti memiliki akar yang kuat agar tidak roboh, begitupun dengan manusia, Ketika kamu memiliki keinginan yang kuat, kamu harus punya pondasi yang kuat agar tidak tumbang dan gagal.” Jawab ayah Raka menasehati Raka.
“Baik yah, Raka akan Fokus ujian dan shalat tepat waktu.” Jawab Raka dengan penuh semangat.
Suara adzan bergema mereka pun akhirnya mengakhiri perbincangan hangat mereka.
“Dah dulu ya nak, sudah adzan Ayah mau maghrib.” Kamu juga shalat lho!” Sahut ayah Raka mengakhiri pembicaraannya lewat telepon.
“Baik yah, Siap laksanakan.” Jawab Raka dengan penuh semangat.
Hari-hari Raka dilaluinya dengan penuh semangat, Raka harus fokus dulu dengan ujian yang iya akan hadapi. Raka selalu berusaha mengingat kata-kata Ayahnya, Dia tekun belajar dan berdoa agar selalu di beri kemudahan.
Hari ujian tiba, semua anak di sekolah itu mengikuti ujian dengan baik begitu juga dengan Raka. Tiga Hari dia mengikuti ujian, selepas menempuh ujian Dia Bersama temannya melepas penat dan pergi jalan-jalan. Di Tengah perjalanan dia bertemu kakak kelasnya yang sudah sedang menempuh di perguruan tinggi. Kakak kelasnya bercerita bahwa ada program beasiswa bagi mereka yang mau masuk ke perguruan tinggi mereka, asalkan nilainya masuk dan sesuai dengan kriteria yang di inginkan pihak kampus. Raka akhirnya tambah semangat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang sama dengan kakak kelasnya itu sambil berharap dan berdoa semoga nilai yang peroleh baik dan bisa sebagai syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut.
Hari pengumuman tiba, Raka dengan hati bergetar menunggu pengumuman di bacakan dan nama Raka terpampang di urutan paling atas karena nilai tertinggi dan menjadi yang terbaik di sekolah itu dan kesempatan untuk beasiswa ke perguruan tinggi terbuka lebar.
Rasa haru menyelimuti hati Raka dan tanpa basa basi Raka langsung menelpon ayahnya, memberitahu nilainya paling tinggi dan mengucapkan terimakasih atas nasihat yang telah di berikan kepadanya. Raka tersenyum lebar bahwa untuk mencapai yang dia inginkan dia harus berusaha dan doa yang kuat, menjaga shalat lima waktu sebagai dasar dan pondasi yang kuat Raka berjanji pada dirinya untuk menjaga itu semua. Raka punya prinsip bahwa setiap proses pasti tidak akan mengkhianati hasil.

.png)
.png)
.png)
.png)

.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

.png)


